Ahad, 10 Februari 2013



Dakwah Kaum Alawiyyin di Nusantara

Dakwah kaum alawiyyin dimulai dengan hijarahnya Imam Ahmad Almuhajir dari Bashrah menuju Hadhramaut Yaman pada tahun 317 H. Dari bumi kering itu, kaum Alawiyyin menyebar ke berbagai penjuru dunia, termasuk Asia tenggara.

Di Asia tenggara mereka mendirikan kesultanan, seperti kesultanan Campa (Kampuchea), Moro (Filipina), Brunei, Malaysia. Sedangkan di Nusantara ini, mereka mendirikan kerajaan seperti di Pontianak, Terneate, Cirebon.

Habib Alwi bin Thahir Alhaddad, mufti Johor, dalam bukunya Sejarah Masuknya Islam di Timur Jauh menyebutkan, para sayyid dari hadhramaut ini mengajak umat yang berbeda-beda dan banyak jumlahnya ke agama Islam. Kemudian mendirikan kerajaan Islam berdasarkan hokum Islam. Dakwah meraka berkembang samai ke Halmahera, Fakfak di Papua. 

Mereka elakukan itu tanpa pasukan kecuali keinginan kuat, tanpa kekuatan kecuali keyakinan dan keimanan, tanpa bekal kecuali takwa, tanpa alat kecuali Al-Qur’an. 

Abad ke 14, Majapahit mampu menguasai perdagangan yang cukup luas sampai ke Brunai, Malaya, Filipina. Tapi anatar 1405-1407, dengan cepat kesultanan Islam dapat menggantikan peran Majapahit, bahkan sampai ke seluruh Asia Tenggara. 

Peran para sayyid dalam menyebarkan Islam sangat besar. Di tengah merekalah Islam tersebar antara para raja Hindu. Meski ada penyebar Islam dari bangsa Arab lainnya, dakwah para sayyid begitu membekas. Hal itu disebabkan para syarif Hadhramaut adalah keturunan manusia pembawa Islam. 

Tahun 30 H, khalifah Usman bin Affan mengirim delegasi dakwah ke wilayah Timur Jauh. Mereka sempat singgah di wilayah yang elakangan disebut Samudera Pasai. Ketika dinasti Umayyah berkuasa, di Samudera Pasai didirikan pelabuhan transit. Di masa itu keturunan Ali bin Abi  Thalib dan Sayyidah Fatimah Az Zahra melakukan hijrah, menghindari penindasan penguasa Bangsa Umayyah ke perbatasan Cina. Dalam literature arab, yang dimaksud “Cina” adalah kawasan yang meliputi Timur Jauh, termasuk Indonesia.

Selain berdagang dan berdakwah, mereka bergaul bahkan berasimilasi dengan penduduk setempat. Mereka berperilaku dengan sangat bersahaja dan akhlak mulia. Sehingga menjadi daya tarik bagi kaum pribumi. Sebagian mereka menikah dengan keluarga kerajaan. Dengandemikian, dakwah mereka semakin berkembang.

Pada masa itulah berdiri kesultanan Islam pertama, yakni kerajaan Perlak, dengan raja pertamanya Sayyid Maulana Abdul Aziz Syah. 

Pensyiaran agama Islam semakin berkembang pada abad ke 14, setelah datangnya kaum Alawiyyin yang merantau dari Hadhramaut menuju Gujarat, lalu ke Nusantara.  Diantara kaum Alawiyyin yang terkenal di India itu adalah Abdul Malik bin Alwi bin Muhammad bin Ali bin Alwi bin Muhammad bin Ubaidillah bin Ahmad bin Isa. Mereka membaur dengan penduduk setempat dan mendapat gelar Adzamatkhan.

Sebagian keturunan Abdul Malik, khususnya keturunan Jamaluddin Husain Al-Akbar menyebar ke Asia Tenggara. Kelak keturunan Jamaluddin Al-Akbar terkenal dengan sebutan wali songo. Jamaludin Husain Al-Akbar atau yang dikenal Syekh Jumadil Kubro adalah orang pertama dari keluarga Azamatkahn yang menetap di Indonesia. Beliau adalah putra Ahmad Jalal Syah bin Abdullah Khan bin Abdul Malik Adzamatkhan.

Jamaluddin datang ke Indonesia bersama keluarga dan kerabatnya. Ia meninggalkan salah seorang putranya, Ibrahim Zainuddin Al-Akbar di Samudra Pasai untuk berdakwah. Kemudian ia berkunjung ke Majapahit, Bugis, dan Wajo, Makassar. Syekh Jumadil Kubro meninggalkan tiga putra, Ibrahim Zainuddin Al-Akbar, Ali Nurul Alam, dan Zainal Alam Barakat.  

Ibrahim Al-Akbar terkenal dengan Ibrahim Asmarqandi atau Asmoroqondi. Wafat di Tuban dan meninggalkan tiga putra, Ali Murtadha, Maulana Ishaq, dan Sunan Ampel.

Ali Nurul Alam, wafat di Kamboja, meninggalkan putra bernama Abdullah Khan, yang wafat di Kamboja. Abdullah Khan meninggalkan dua putera, Sultan Babullah (pendiri kerajaan Islam ternate) dan Syarif Hidayatullah (sunan Gunung Jati, pendiri kerajaan Islam Ciebon).

Zainal Barakat Alam, wafat di Kamboja dan meninggalkan dua putera, Ahmad Zainal Alam dan Maulana Malik Ibrahim. Maulana Malik Ibrahim berdakwah di kerajaan Majapahit. maulana MalikmIbrahim berusaha mengislamkan Majapahit dengan mempersunting putri prabu Angga Wijaya, raja Majapahit saat itu.

Demikian peranan dakwah para sayyid keturunan Al-Muhajir. Kedatangan mereka ke Nusantara tidak hanya sampai disitu. Berabad-abad setelahnya mereka juga tetap datang dengan tujuan berdakwah.
Sampai saat ini, peran para syarif dalam dakwah Islamiyyah masih dirasakan kaum muslimin. Banyak diantara mereka menjadi muballigh terkenal dan kharismatis.


MANAQIB Sayyidina al-Imam 'Abdul Malik Azmatkhan bin 'Alwi 'Ammul Faqih * NASAB : " Sayyid Abdul Malik bin Alawi (...