Dakwah Kaum
Alawiyyin di Nusantara
Dakwah kaum alawiyyin dimulai
dengan hijarahnya Imam Ahmad Almuhajir dari Bashrah menuju Hadhramaut Yaman
pada tahun 317 H. Dari bumi kering itu, kaum Alawiyyin menyebar ke berbagai
penjuru dunia, termasuk Asia tenggara.
Di Asia tenggara mereka mendirikan
kesultanan, seperti kesultanan Campa (Kampuchea), Moro (Filipina), Brunei,
Malaysia. Sedangkan di Nusantara ini, mereka mendirikan kerajaan seperti di
Pontianak, Terneate, Cirebon.
Habib Alwi bin Thahir Alhaddad,
mufti Johor, dalam bukunya Sejarah Masuknya Islam di Timur Jauh menyebutkan,
para sayyid dari hadhramaut ini mengajak umat yang berbeda-beda dan banyak
jumlahnya ke agama Islam. Kemudian mendirikan kerajaan Islam berdasarkan hokum
Islam. Dakwah meraka berkembang samai ke Halmahera, Fakfak di Papua.
Mereka elakukan itu tanpa pasukan
kecuali keinginan kuat, tanpa kekuatan kecuali keyakinan dan keimanan, tanpa
bekal kecuali takwa, tanpa alat kecuali Al-Qur’an.
Abad ke 14, Majapahit mampu
menguasai perdagangan yang cukup luas sampai ke Brunai, Malaya, Filipina. Tapi
anatar 1405-1407, dengan cepat kesultanan Islam dapat menggantikan peran
Majapahit, bahkan sampai ke seluruh Asia Tenggara.
Peran para sayyid dalam menyebarkan
Islam sangat besar. Di tengah merekalah Islam tersebar antara para raja Hindu.
Meski ada penyebar Islam dari bangsa Arab lainnya, dakwah para sayyid begitu
membekas. Hal itu disebabkan para syarif Hadhramaut adalah keturunan manusia
pembawa Islam.
Tahun 30 H, khalifah Usman bin
Affan mengirim delegasi dakwah ke wilayah Timur Jauh. Mereka sempat singgah di
wilayah yang elakangan disebut Samudera Pasai. Ketika dinasti Umayyah berkuasa,
di Samudera Pasai didirikan pelabuhan transit. Di masa itu keturunan Ali bin
Abi Thalib dan Sayyidah Fatimah Az Zahra
melakukan hijrah, menghindari penindasan penguasa Bangsa Umayyah ke perbatasan
Cina. Dalam literature arab, yang dimaksud “Cina” adalah kawasan yang meliputi
Timur Jauh, termasuk Indonesia.
Selain berdagang dan berdakwah,
mereka bergaul bahkan berasimilasi dengan penduduk setempat. Mereka berperilaku
dengan sangat bersahaja dan akhlak mulia. Sehingga menjadi daya tarik bagi kaum
pribumi. Sebagian mereka menikah dengan keluarga kerajaan. Dengandemikian,
dakwah mereka semakin berkembang.
Pada masa itulah berdiri kesultanan
Islam pertama, yakni kerajaan Perlak, dengan raja pertamanya Sayyid Maulana
Abdul Aziz Syah.
Pensyiaran agama Islam semakin
berkembang pada abad ke 14, setelah datangnya kaum Alawiyyin yang merantau dari
Hadhramaut menuju Gujarat, lalu ke Nusantara. Diantara kaum Alawiyyin yang terkenal di India
itu adalah Abdul Malik bin Alwi bin Muhammad bin Ali bin Alwi bin Muhammad bin
Ubaidillah bin Ahmad bin Isa. Mereka membaur dengan penduduk setempat dan
mendapat gelar Adzamatkhan.
Sebagian keturunan Abdul Malik,
khususnya keturunan Jamaluddin Husain Al-Akbar menyebar ke Asia Tenggara. Kelak
keturunan Jamaluddin Al-Akbar terkenal dengan sebutan wali songo. Jamaludin
Husain Al-Akbar atau yang dikenal Syekh Jumadil Kubro adalah orang pertama dari
keluarga Azamatkahn yang menetap di Indonesia. Beliau adalah putra Ahmad Jalal
Syah bin Abdullah Khan bin Abdul Malik Adzamatkhan.
Jamaluddin datang ke Indonesia
bersama keluarga dan kerabatnya. Ia meninggalkan salah seorang putranya,
Ibrahim Zainuddin Al-Akbar di Samudra Pasai untuk berdakwah. Kemudian ia
berkunjung ke Majapahit, Bugis, dan Wajo, Makassar. Syekh Jumadil Kubro
meninggalkan tiga putra, Ibrahim Zainuddin Al-Akbar, Ali Nurul Alam, dan Zainal
Alam Barakat.
Ibrahim Al-Akbar terkenal dengan
Ibrahim Asmarqandi atau Asmoroqondi. Wafat di Tuban dan meninggalkan tiga
putra, Ali Murtadha, Maulana Ishaq, dan Sunan Ampel.
Ali Nurul Alam, wafat di Kamboja,
meninggalkan putra bernama Abdullah Khan, yang wafat di Kamboja. Abdullah Khan
meninggalkan dua putera, Sultan Babullah (pendiri kerajaan Islam ternate) dan
Syarif Hidayatullah (sunan Gunung Jati, pendiri kerajaan Islam Ciebon).
Zainal Barakat Alam, wafat di
Kamboja dan meninggalkan dua putera, Ahmad Zainal Alam dan Maulana Malik
Ibrahim. Maulana Malik Ibrahim berdakwah di kerajaan Majapahit. maulana
MalikmIbrahim berusaha mengislamkan Majapahit dengan mempersunting putri prabu
Angga Wijaya, raja Majapahit saat itu.
Demikian peranan dakwah para sayyid
keturunan Al-Muhajir. Kedatangan mereka ke Nusantara tidak hanya sampai disitu.
Berabad-abad setelahnya mereka juga tetap datang dengan tujuan berdakwah.
Sampai saat ini, peran para syarif
dalam dakwah Islamiyyah masih dirasakan kaum muslimin. Banyak diantara mereka
menjadi muballigh terkenal dan kharismatis.





