Rabu, 30 Januari 2013

Kekerasan Hanya Membawa Mudarat

Dalam pemberitaan media Barat, Hadramaut lebih sering disebut sebagai tanah leluhur Usamah bin Ladin, sosok yang dicap sebagai teroris nomor satu dunia. Hadramaut memang tempat kelahiran ayah Usamah, sebelum ia merantau ke Arab Saudi. Kawasan tandus yang meliputi sepertiga Yaman itu kerap disebut tempat lahirnya ideologi Al-Qaidah, organisasi bentukan Usamah.
Jauh dari paham-paham radikal, apalagi terorisme, Hadramaut justru kental dengan tradisi sufi, yang lebih mengutamakan kedekatan kepada Sang Khalik. Tarim, salah satukotadi Hadramaut, merupakankotapendidikan, dengan sejumlah pesantren sufi – yang terkenal adalah Darul Mustafa. Di sinilah sejumlah santri dariIndonesiamenimba ilmu.
Tentang negerinya yang diasosiasikan dengan Al-Qaidah, Habib Umar bin Hafiz menegaskan bahwa Usamah, yang lahir di Arab Saudi, tak pernah berdiam di Yaman. “Pemikirannya tak ada hubungannya dengan tempat kami,” ujarnya, seperti dikutip The New York Times. Walaupun beberapa tahun lalu Al-Qaidah membangun basis di Yaman dan melancarkan sejumlah teror.
Umar adalah pendiri sekaligus mahaguru di Darul Mustafa. Ia terkenal dengan seruan Islam sebagai agama yang membawa damai. Ia rajin melakukan safari, termasuk Amerika Serikat dan Eropa, untuk membawa pesan damai itu. Aktivitas dan pengaruh umar – termasuk diIndonesia– membuat namanya masuk 500 tokoh Islam berpengaruh yang dirilis Universitas Georgetown, Amerika Serikat.
Ia termasuk penanda tangan suratterbuka “A Common Word Between Us and You”, yang ditujukan kepada Paus di Roma. Ini adalah inisiatif dialog damai yang kemudia ditindaklanjuti dengan berbagai pertemuan antarpemimpin kedua agama. Ia juga ikut meneken Risalah Amman di Yordania, yang isinya imbauan bagi umat Islam untuk tidak mengkafirkan aliran tertentu.
Rabu pekan lalu, Umar bin Hafiz bertolak ke Yaman setelah kunjungan sepekan diIndonesia. Jadwalnya yang padat serta kemacetan Ibu Kota membuat Tempo menunggu dua jam di Bandara Soekarno – Hatta, untuk sebuah wawancara.
Ketika mobil Alphard yang membawanya merapat di depan bandara, pengawalnya membuka pintu dan mempersilakan Tempo masuk dan duduk di samping Umar. Di depan kami duduk Jindan bin Novel, salah satu muridnya, yang menjadi penerjemah. Jendela mobil yang terbuka membuat para pengantarnya berebut menengok, beberapa menyorongkan telepon selular untuk merekam tanya-jawab.

Apa tujuan kedatangan Anda ke Indonesia?
Ini adalah kunjungan untuk memenuhi undangan dari murid-murid saya di sini. Selain itu untuk bertemu dengan para ulama di Majelis Al-Muwasalah Baynal Ulama Almuslimin (forum komunikasi ulama yang ia bentuk).

Selain mengunjungi Indonesia dan negara Asia lainnya, Anda melakukan perjalanan ke Eropa dan Amerika serta menyampaikan kuliah umum di kampus-kampus. Apa yang Anda sampaikan?
Saya membawa pesan damai Islam dalam setiap perjalanan ke luar negeri. Bahwa Islam adalah agama yang jauh dari kekerasan.

Apa yang mendorong Anda melakukan hal tersebut?
Sebenarnya ini adalah kewajiban setiap orang, sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Quran bahwa “telah datan kepada kalian kitab dan rasul dengan cahaya yang terang benderang dan dengan itulah Allah menunjukkan jalan-jalan yang membawa kedamaian.”

Apakah itu yang juga menjadi dasar Anda menandatangi “A Common Word between Us and You?
Ya. Apabila seorang muslim mempraktekkan petunjuk Allah, itu akan memberi manfaat yang lebih besar, tidak hanya untuk muslim, tapi juga kepada orang non-muslim. Umat Islam semestinya  bisa hidup berdampingan dan bermasyarakat dengan penganut agama lain. 

Tapi kenyataannya justru konflik antaragama terus terjadi. Dalam sejumlah kasus, sekelompok orang Islam berperan memicu konflik.
Itu karena ada banyak hakikat dari ajaran Allah yang absen dari pemikiran kaum muslim. Mereka tidak mendapat arahan yang tepat sehingga mereka lalai dari petunjuk – keutamaan damai – tersebut. Sebagian kurang mempraktekannya. Padahal jalan damai ini adalah jalan menuju kebaikan bagi seluruh uamt manusia, yang juga akan membawa kebaikan pada apa yang ada di sekeliling manusia, seperti lingkungan, benda, dan hewan.

Apa komentar Anda tentang anggapan bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan terorisme?
Anggapan itu hanyalah prasangka.

Bisa anda jelaskan lebih jauh?
Tuduhan tersebut mengemuka karena segelintir umat Islam yang tindakannya tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah.

Apa ajaran itu?
Adacontoh bagaimana Umar bin Khattab memegang teguh prinsip yang diajarkan Rasulullah. Ketika ia menjadi khalifah dan mengangkat Amr bin Ash sebagai Gubernur Mesir, Umar berpesan supaya Amr memerintah dengan adil dan menghargai hak-hak warga walau berbeda agama.
Sebutan habib yang melekat di depan namanya merupakan pertanda ulama ini memiliki “darah biru” Islam. Bila dirunut, silsilahnya mengerucut ke Fathimah, putri Nabi Muhammad. Tradisi penghormatan terhadap keturunan Nabi, plus reputasi keilmuan yang dimiliki Umar, membuat namanya masyhur di sejumlah negara, termasukIndonesia.
Saat in sekitar 400 santriIndonesiaberguru di Darul Mustafa. Beberapa habib yang memiliki banyak pengikut di Tanah Air, seperrti Munzir al-Musawa dan Jindan bin Novel, pernah berguru ke Umar. Mereka kerap menggelar zikir yang dihadiri puluhan ribu orang. Tak pelak, kedatangan Umar keIndonesiadisambut gegap gempita oleh para pengikut habib tersebut.
Senin pekan lalu, Umar memberikan kuliah umum di Universitas Paramadina, Jakarta. Kampus yang dipimpin Anies Baswedan itu langsung dipenuhi orang berjubah dan berkopiah putih. Mereka pengikut habib yang ingin mengikuti kuliah. Mobil yang membawa Umar datang dengan pengawalan voor rijder dan diiringi mobil para pengikutnya.
Di hadapan mahasiswa dan pengikutnya, selain  menekankan pentingnya ibadah dan zikir, Umar kembali menegaskan bahwa umat Islam harus menjadi pionir perdamaian. Di akhir kuliah, ia menyampaikan kesannya tentang umat IslamIndonesiayang cinta damai, lembut dan memiliki etika.
Entah sebuah pujian atau sentilan. Faktanya, konflik antarumat beraama atau aliran kerap terjadi. Pembakaran rumah warga Syiah di Madura dan penyerangan terhadap pengikut Ahmadiyah hanya segelintir dari aneka kekerasan yang mencoreng kerukunan beragama di negeri ini. Bagi Umar, tindak kekerasan terhadap aliran atau agama lain justru mendatangkan mudarat bagi pelakunya.

Bagaimana Anda memandang konflik antaraliran dalam Islam.
Ini terjadi karena hawa nafsu seseorang sudah terlalu dominan, sehingga mengalahkan aturan yang diajarkan oleh Allah. Bagi orang-orang tersebut, pendapat pribadi dan pemahaman mereka atas sesuatu dianggap seperti wahyu dari Allah, sehingga mereka merasa benar. Padahal itu hanyalah pendapat dan pemahaman pribadi yang belum tentu tetap seperti yang diinginkan Allah.

Di Indonesia, sebagai contoh, ada kelompok yang dikafirkan, lalu mendapat perlakuan kekerasan.
Tidak boleh sekalipun menyakiti muslimin lain dengan cara apa pun, terutama dengan mengeluarkan muslim tersebut dari Islam atau memvonis kafir. Ini merupakan dosa yang sangat besar, sebagai ilustrasi, Rasul bahkan emlarabng orang yang mulutnya bau karena makan bawang putih untuk datang ke masjid karena bau mulut mengganggu orang lain, dan itu tidak baik. Apatah lagi jika mulut itu menyakiti dengan mencap kafir.

Tapi sepertinya mudah sekali sekelompok aliran menyatakan aliran lain kafir.
Dalam perkataan Nabi yang diriyatakan oleh Bukhaei disebutkan, apabila seseorang menuduh muslim lain kafir padahal dia adalah seorang muslim, kekefuran itu akan kembali kepada si penuduh. Si penuduhlah yang sebenarnya kafir.

Kenyataan ini membuat orang antipati dan menjauhi Islam, padahal Anda selalu mengkampanyekan Islam sebagai agama yang damai, teduh, dan jauh dari kekerasan.
Ya, padahal Nabi Muhammad melarang tindakan yang membuat orang mundur dan menjauh dari Islam dan umatnya. Banyak contoh sederhana yang beliau berikan terkait dengan hal tersebut. 

Bisa Anda sebutkan salah satunya?
Misalnya ketika kita menjadi imam salat lalu kita memperpanjang bacaan atau salat sehingga orang enggan ikut shalat berjamaah bersama kita. Rasul melarang hal-hal seperti ini, maka bagaimana dengan cacian, tindak kekerasan, dan tuduhan kafir? Dalam hadis shahih disebutkan bahwa mencaci seorang muslim adalah kefasikan (tidak perduli terhadap perintah Allah) dan memerangi seorang muslim adalah kekufuran (ingkar kepada Allah dan Rasul). 

Apa solusi untuk mencegah terjadinya konflik antaraliran tersebut?
Hendaknya mereka semua menyadari bahwa penilaian buruk dan perlakuan buruk terhadap kelompok yang mereka anggap berbeda paham itu sama sekali tidak membantu. Tindakan tersebut justru membawa kerugian besar. 

Pesan Anda buat mereka yang kerap melakukan kekerasan terhadap kelompok aliran yang berbeda.
Pada hari kiamat nanti Allah tidak akan menanyakan seseorang tentang dosa orang lain, tapi tentang dosa dan kesalahan dia sendiri. Apa yang kita lakukan di dunia, itulah yang akan kita pertanggungjawabkan kelak.
(Adek Media Roza)
Sumber: Majalah Tempo Edisi 10 – 16 Desember 2012 hlm. 178
SEMUA HIDUP DALAM SATU BAHTERA

Konflik antar-aliran dalam Islam timbul karena pemahaman yang dangkal terhadap agama. Ulama sering membungkus kepentingan duniawi dengan dalih agama. Muslim Indonesia mempunyai budaya hidup rukun.
Sebagai negara berpenduduk Islam terbesar di dunia, Indonesia menjadi aset Islam yang tak ternilai. Akan tetapi sejarah keberagaman di Indonesia sering dicoreng tindak kekerasan berdalih agama. Hal ini menjadi perhatian Habib Umar bin Hafizh, ulama pluralis dari Tarim, Yaman. Ulama kelahiran Tarim, Yaman, 27 Mei 1963, ini adalah pendiri sekolah Daar al-Mustafa yang oleh koran The New York Times digambarkan sebagai tempat multikultrural yang disesaki pelajar dari Indonesia hingga California.
Dengan visi kemajemukannya, ulama penghapal Al-Quran ini memberikan banyak ceramah di berbagai pusat kebudayaan dan pendidikan Islam, termasuk beberapa universitas di Inggris, Amerika Serikat dan Kanada.
Oleh Center for Muslims-Christian Understanding, Georgetown University, Amerika Serikat, putra mufti kota Tarim, Habib Muhammad bin Salim, itu dimasukkan di antara 50 nama dalam “The World’s 500 Most Influential Muslims 2009.
Salah satu aksi penting yang dilakukan sebelumnya adalah penandatanganan Risalah Amman (2005) dan A Common Word atau Kalimatun Sawa (2007). Pakta pertama adalah pengakuan adanya beberapa mazhab dalam Islam dan yang kedua adalah surat terbuka para ulama kepada pemimpin Kristen yang kemudian direspons positif sebagai inisiatif dialog antar-iman yang cukup berpengaruh.
Pekan ini, ia melakukan lawatan ke Indonesia. Di antara agendanya adalah memberikan ceramah di Universitas Paramadia, Monumen Nasional, dan di kawasan Puncak, Bogor. Senin lalu, Umar bin Hafizh berkesempatan menerima Edmiraldo Siregar dan Dharma Wijayanto (pewarta foto) dari GATRA. Berikut petikan wawancaranya:
Bagaimana Anda melihat umat Islam di Indonesia?
Orang Indonesia punya dasar yang baik untuk bisa hidup bersama dengan keberagaman. Kalau ada sedikit konflik atau perseteruan, tentunya pengaruh dari apa yang datang setelahnya. Namun pada intinya, potensi untuk toleransi yang baik itu ada di Indonesia. Cukup dengan berusaha sedikit saja, insya Allah akan terwujud toleransi seperti yang kita harapkan.
Sampai sekarang masih terjadi sikap intoleransi, mengapa?
Perbedaaan mazhab-mazhab dalam Islam bukanlah hal yang sifatnya prinsipil. Itu hanya “ranting dan cabangnya” agama. Sebaiknya itu bisa dipahami dengan baik agar tidak akan ada masalah. Yang jadi masalah, ketika seseorang dikuasai fanatisme berlebih pada mazhabnya, maka perilakunya saling menyakiti.
Terkait dengan konflik bertema agama, apa saran anda?
Semestinya kita semua saling menghormati. Intinya, mazhab yang sudah dianut lebih dahulu oleh masyarakat Indonesia harus menunjukkan penghormatan pada mazhab baru. Tetapi mazhab yang masuk setelahnya harus mampu menunjukkan penghormatan yang lebih besar.
Apa faktor yang menjadi pendukungnya?
Ini menjadi fenomena pribadi mereka (ulama) masing-masing yang pemahaman agama Islamnya mungkin kurang benar. Mengkafirkan seseorang itu tidak diperbolehkan, kecuali pada kenyataannya orang itu memang kafir. Atau bisa jadi mereka melakukan hal tersebut karena faktor-faktor duniawi dengan mencari pembenaran atas nama agama.
Di negara Islam lain apakah konflik mazhab masih menjadi masalah?
Pada masa lalu sebenarnya tidak ada. Di setiap negara terdapat dua mazhab berbeda, bahkan bisa lebih, namun hidupnya stabil tanpa ada masalah. Tetapi perkembangannya, apa yang saya istilahkan sebagai misionaris mazhab mulai mengorek-ngorek dan tentunya bisa merangsang terjadinya konflik.
Saran untuk muslim di Indonesia?
Semua mazhab yang ada jangan sampai saling mengganggu dan mencela. Kita mengarahkan kalau di satu daerah telah bermukim sebuah mazhab mayoritas, maka agar mazhab lain tidak masuk ke sana karena bisa menimbulkan gesekan-gesakan. Di dalam Islam itu dianjurkan untuk berbuat dan berhubungan baik dengan setiap orang termasuk mereka yang tidak mengucapkan dua kalimat syahadat. Tapi kalau di satu tempat ada agama tertentu yang jadi mayoritas maka harus diperhatikan perasaan umatnya. Kalau tidak bisa saja menyinggung perasaan yang mayoritas.
Adakah negara Islam yang bisa menjadi model toleransi umat?
Saya tidak bisa sebut contoh negaranya. Namun pada intinya jika pendidikan agama tersebar dengan baik maka tentunya akan terjadi apa yang disebut toleransi.
Bagaimana menyikapi potensi konflik antar-iman yang ada?
Hal fundamental dalam Islam menyebutkan tidak ada paksaan bagi siapapun untuk masuk Islam. Makanya, yang terpenting adalag bagaimana menyampaikan hakikat Islam untuk semua manusia. Seorang Paulus di Mesir menyebut, tidak ada kemerdekaan yang hakiki bagi agamanya sampai datangnya ajaran Islam.
Menurut Anda bagaimana Islam di Indonesia?
Saya rasa Islam di Indonesia punya rasa cinta tinggi pada nabi. Hubungan emosional yang erat dengan Rasulullah pun bisa ditingkatkan dengan pembelajaran ilmu akhlak yang lebih dalam. Selain itu, peningkatan pemahaman pada norma-norma juga perlu ditingkatkan agar hubungan muslim dengan yang bukan muslim di Indonesia bisa semakin lebih baik.
Umat Islam seharusnya menumbuhkan gambaran bahwa kita tinggal di satu bahtera bersama umat beragama lain. Seperti dalam satu perahu, ketika satu orang melubanginya dengan alasan apapun, tentunya akan membahayakan bagi semua orang di dalam perahu. Jadi silakan berbuat apapun, asalkan jangan lubangi perahunya.
Sumber: Majalah Gatra Edisi 05/XIX/06-12 Desember 2012 hlm. 80
DARI WEBSITE RABITHAH ALAWIYYAH

Khamis, 17 Januari 2013



Baitul maqdis
Kawasan Rebutan 3 Agama
         
Masjidil Aqsha
Di muka bumi terdapat 3 masjid yang memiliki kemuliaan lebih dari masjid-masjid lainnya, yaitu masjid al-Haram, masjid Nabawiy, masjid al-Aqsha. Masjidil Haram terletak di kota Makkah, masjid Nabawiy di kota Madinah, dan Masjid al-Aqsha di kota Yerussalem. Setiap muslim dituntut untuk mengagungkan ketiga masjid tersebut.
Dalam peristiwa Isra’ Mi’raj, Masjid al-Aqsha menjadi salah satu tempat yang diziarahi Rasulullah saw. Di masjid al-Aqsha itulah Rasulullah saw shalat bersama para Nabi dan Rasul. Imam shalat langsung dipimpin oleh Beliau saw. Bahkan masjidil Aqsha menjadi kiblat umat Islam sebelum dipindahkan ke Ka’bah.
Konon, kota Yerussalem ada sejak masa Sam bin Nuh. Menurut penemuan arkeolog, kota ini telah beradapan kuno 3.000 SM. Bangsa Semith, yaitu bangsa Kanaan adalah bangsa pertama yang bermigrasi dari semenanjung Arabia. Yang pertama merencanakan dan mendirikan Yerussalem adalah seorang raja bangsa Jebus-kanaan : Malchisedec, yang percaya ke-esaan tuhan.           
Ibn Al-Firkah, dalam Bait an-Nufus ila Ziyarat al-Quds al-Mahrus menuliskan bahwa sam bin Nuh sangat mungkin merupakan pendiri Kuil yerussalem atau Baitul Maqdis.  Beberapa Nabi meneruskan upaya Sam bin Nuh untuk meneruskannya.
Tahun 2.000-1.500 SM, Nabi Ibrahim bersama isterinya, Sarah, dan Nabi Luth hijrah dari Baitul Maqdis. Sedangkan Nabi Ishaq, putra Nabi Ibrahim tetap tinggal di Palestina hingga memiliki putra, Nabi ya’qub. Nabi Ya’qub memiliki julukan Israil, “hamba Tuhan”.
Salah satu putra Nabi Ya’qub adalah Nabi Yusuf. Di kemudian hari, Nabi Yusuf menjadi pejabat di kerajaan Mesir. Ketika musim paceklik, Nabi Ya’qub bersama putra-putranya bermigrasi keMesir. Dari Mesir itulah, keturunan Nabi ya’qub berkembang dan dikenal dengan  Bani Israil.
Tahun 1550 SM, Bani Israil dianggap sebagai masalah besar di Mesir. Bangsa Israil lebih pintar dari pribumi Mesir. Berbagai aspek telah dikuasai Bani israil, termasuk perekonomian. Oleh karena itu, Fir’an menurunkan martabat Bani Israil menjadi budak.
Tahun 1200 SM, nabi Musa memimpin Bani Israil melarikan diri dari kejaran Fir’aun menuju tanah Palestina. Mereka memasuki palestina dengan syarat taat kepada Allah swt. Namun, mereka menolak memasuki Palestina. (Q.S Al-MAidah :24). Akibatnya, Allah mengutuk mereka. mereka hanya berputar-putar di sekitar palestina.
Agama yang dibawa Nabi Musa disebut Yahudi. Nama Yahudi berasal dari salah satu marga dari Bangsa Israil yang memiliki keturunan terbanyak, yaitu Yahuda. Tapi pada akhirnya, bangsa Israil disebut Yahudi.
Nabi Daud, keturunan Nabi Musa berhasil mengalahkan raja Jalut di tahun 1.000 SM. Palestina direbut oleh Daud dan Daud dijadikan raja. Kedua belas suku Bani Israil disatukan dibawah pemerintahan Nabi Daud. Kerajaan Nabi Daud diteruskan oleh putranya, nabi Sulaiman. Dibawah pemerintahan Nabi Sulaiman inilah kerajaan Israil mencapai puncak kejayaan.
Nabi Sulaiman membangun Kuil Sulaiman atau Sinagog, yang dikenal dengan Haikal Sulaiman. Saat tentara babilonia yang dipimpin Raja Nebukatnezar merebut paksa Yerussalem di tahun 586 SM, Haikal Sulaiman hancur lebur.
Seiring berjalannya waktu, tentara Persia menguasai Babilonia. Raja Persia memperbolehkan bangsa Yahudi kembali ke Yerussalem. Haikal Sulaiman kembali dibangun di lokasi bekas reruntuhannya oleh Koresy yang Agung.
Di masa pemerintahan Roma, bangsa Yahudi melakukan pemberontakan. Semangat pemberontakan itu dipatahkan oleh tentara Roma dengan menghancurkan Haikal Sulaiman II. Bahkan kaisar Romawi, Konstantine menjadikan Yerussalem sebagai pusat keagamaan Kristen dengan membangun Cruch of the holy Sepulcher di tahun 335 SM.
Pada masa Umar bin Khattab, tahun 638 M, umat Islam berhasil menaklukkan Yerussalem tanpa peperangan. Sayyidina Umar membersihkan dan shalat di Masjid al-Aqsha saat mengunjunginya. Di masa pemerintahan Abdul Malik bin Marwan, Masjidil Aqsha yang hanya berupa mihrab, direnovasi. Perluasan masjidil Aqsha seperti sekarang dilakukan oleh cucu Abdul Malik, Al-Walid.
Itulah sejarah singkat baitul Maqdis menjadi rebutan tiga agama di muka Bumi, Islam, Kristen, dan Yahudi.
Tembok Ratapan
Yang tersisa dari Haikal Sulaiman hanya sebagian dinding pembatas luar. Kini dikenal dengan tembok barat atau tembok ratapan yang membentang sekitar 60 m. Di tembok itu, kaum Yahudi berdoa dan meratapi dosa-dosa dengan penuh penyesalan. Selain itu, mereka juga meuliskan doa-doa itu dikertas dan menyisipkannya di celah-celah tembok.
Kawasan Haikal Sulaiman II lebih dikenal dengan al-Quds atau Baitul Maqdi. Kesucian Baitul Maqdis, menjadikannya sebagai tempat tujuan isra’ baginda Nabi Muhammad saw.
Di kompleks baitul maqdis terdapat batu besar yang dijadikan pijakan Rasulullah saw sebelum Mi’raj. Batu itu terletak di sebelah utara masjid al-Aqsha. Pada batu tersebut dibangunkan qubbah yang dikenal Qubbah As-Sakhrah. Qubatus Sakhra sengaja dibangun untuk melindungi batu tersebut. Di masa Abdul Malik bin Marwan, Qubatus Sakhra direnovasi.
Belakangan kaum Yahudi selalu mengekspos Qubatush sakhra sebagai Masjidil Aqsha. Itu dilakukan untuk mengibuli umat Islam. Mengingat, hingga saat ini kawasan masjidil Aqsha menjadi incaran Yahudi.
Wa allahu a’lam

 
Qubah AshShakhrakh

Selasa, 15 Januari 2013



Puisi Kepada Rasulullah SAW
By Ustadzah Halimah Alydrus

Kembali kami pada Robi’ul Awal bulanmu
Dan taka da yang terucap dari Kami
Kecuali hanya sekedar terima kasih
Ya ! Terima kasih Ya Rasulallah…
Terima kasih atas kasih sayingmu untuk kami
Dan terima kasih atas limpahan rahmat
Dan kilau cahaya yang kau tebar di muka bumi
Terima kasih atas doa-doamu mendoakan Kami
Terima kasih atas ribuan istighfar
Permohonan ampunmu untuk kami
Terima kasih untuk sujud-sujud panjangmu
Meminta syafaat buat kami
 Sungguh kami hanya bias berterima kasih karena
Sungguh kami tak bias membalasnya dengan apapun
Terima kasih pula, Ya Rasulallah..!
Atas tetesan tiap keringatmu berjuang untuk kami
Terima kasih untuk lelah dan pengorbananmu untuk kami
Terima kasih untuk air mata dan
Sedu sedanmu mengkhawatirkan nasib kami
Dan terima kasih untuk segenap bimbingan,
Setiap ajaran, dan seluruh didikan darimu
Sungguh sekali lagi hanya berterima kasih yang kami bias
Karena ternyata maaf
Karena ternyata maaf
Untuk menjadi umatmu, kami jauh dari sempurna
Maaf atas didikanmu yang belum banyak terlaksana
Maaf atas sunnah-sunnahmu yang bahkan di rumah-rumah kamipun,
Kami abaikan begitu saja
Maaf atas syariat yang telah kau perjuangkan dan
Tak kami jalankan dengan semestinya
Maaf atas akhlak dan budi pekertimu yang sekedar teori
Tanpa praktek dalam diri kami
Maaf, jika selama ini Kami mengaku mencintaimu
Tanpa mampu memberi bukti
Pada Rabiul Awwal bulanmu…. Ada harap kami
Semoga bias menjadi umat terbaik
Untukmu…

Ya Allah, di bulan kelahirannya,
Gemakan namanya di seluruh ruang hati kami…
Kelahiranmu adalah lahirnya kebaikan
Lahirnya jalan petunjuk, lahirnya iman, lahirnya islam
Lahirnya makrifat, lahirnya hidayah, lahirnya rahmat Allah
Lahirnya cinta-Nya, lahirnya surga… untuk kami
umatmu…
kasihnya dekat tak bersekat
cintanya nyata dan senantiasa
rahmat di hatinya adalah karunia terindah
yang Allah hadiahkan untuk kita…
Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.( Q. S Al-Ahzab: 56)
Rasul saw bersabda :
“sesungguhnya manusia paling utama denganku di hari kiamat adalah yang paling banyak bersholawat ke atasku”


MAULID TENGAH MALAM

Maulid tengah malam yang diselenggarakan setiap malam 12 Rabi’ul Awal di makam Habib Ja’far bin Syaikhon Assegaf terasa unik. Acara berlangsung di waktu ketika kebanyakan manusia tengah terlelap oleh tidurnya. Tapi jangan salah, acara maulid tersebut dihadiri oleh ribuan bahkan puluhan ribu kaum muslimin. Mereka datang dari Pasuruan dan berbagai kota disekita pasuruan, seperti Surabaya, Malang, Probolinggo, Lumajang, Gresik. Bahkan dari luar jawa. Semuanya berkumpul di tengah malam demi menghidupkan malam kelahiran Sang Nabi Pembawa Rahmat bagi Alam Semesta, Muhammad saw dengan shalawat dan salam.
Setiap tahun, muslimin yang hadir semakin banyak. Masjid Jami’ pun tak mampu menampung ribuan jamaah yang hadir di malam itu.

Peringatan maulid tengah malam di kota Pasuruan ini dirintis oleh Habib Abdul Qadir bin Husin Assegaf. Majelis ini merupakan sebagian dari tradisi masyarakat Seiwun, Hadhramaut. Menjelang fajar, masyarakat Seiwun bngun dari tidurnya untuk melantunkan shalawat dan salam kepada Rasulullah saw.
Kenapa diselenggarakan di tengah malam? Disebuah kesempatan, Habib Taufiq bin Abdul Qodir Assegaf menjelaskan bahwa Rasulullah saw lahir menjelang fajar. Sehingga alangkah indahnya jika menjelang kelahiran Nabi Muhammad saw, kita bershalawat dan salam kepada Beliau. Sebagai bukti cinta kita kepada Rasulullah saw. Apalagi ditambah dengan ibadah yang lain, seperti shalat malam dan dzikir-dzikir yang lain.
Sungguh nikmat..

MANAQIB Sayyidina al-Imam 'Abdul Malik Azmatkhan bin 'Alwi 'Ammul Faqih * NASAB : " Sayyid Abdul Malik bin Alawi (...