Khamis, 18 Mei 2017

MANAQIB Sayyidina al-Imam 'Abdul Malik Azmatkhan bin 'Alwi 'Ammul Faqih



* NASAB :

" Sayyid Abdul Malik bin Alawi (Ammil Faqih) bin Muhammd Shahib Marbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alawi Baitu Jubair bin Muhammad Maula Ash-Shouma'ah bin Alawi Al-Mubtakir bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir bin Isa ar-Rumi bin Muhammad an-Naqib bin Ali al-’Uraidhi bin Ja’far Ash-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib dan Fathimah az-Zahra’ binti Muhammad Rasuli-Llahi Shalla-Llahu Alaihhi wa-Sallam "

* TEMPAT DAN TAHUN KELAHIRANNYA:

Al-Imam As-Sayyid Abdul Malik Azmatkhan lahir di kota Qasam, sebuah kota di Hadhramaut, sekitar tahun 574 Hijriah. Beliau juga dikenal dengan gelar “Al-Muhajir Ilallah”, karena beliau hijrah dari Hadhramaut (Yaman Selatan) ke Gujarat / Gujarkhan (Republik India) untuk berda’wah sebagaimana kakek beliau, Al-Imam As-Sayyid Ahmad bin Isa, digelari seperti itu karena beliau hijrah dari Iraq ke Hadhramaut untuk berda’wah.

* ORANGTUA AL-IMAM ABDUL MALIK AZMATKHAN:

Ayah dari Al-Imam Abdul Malik Azmatkhan adalah Al-Imam Alwi 'Ammul Faqih bin Muhammad Shohib Marbath lahir di Tarim. Beliau adalah seorang ulama besar, pemimpin kaum Arifin, hafal al-Qur'an, selalu menjaga lidahnya dari kata-kata yang tidak bermanfaat, dermawan, cinta kepada fakir miskin dan memuliakannya, banyak senyum. Imam Alwi bin Muhammad Shohib Marbath dididik oleh ayahnya dan belajar kepada beberapa ulama, di antaranya Syaikh Salim Bafadhal, As-Sayid Salim bin Basri, Syaikh Ali bin Ibrahim al-Khatib. Beliau wafat pada hari Senin bulan Dzulqaidah tahun 613 Hijriyah di Tarim dan dimakamkan di perkuburan Zanbal.
Dalam Kitab Al-Mausuu'ah Li Ansaabi 'Itrati Al-Imam Al-Husaini, dijelaskan bahwa Al-Imam 'Alwi Ammul Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath, memiliki empat orang anak, yaitu :
(1)Abdullah (keturunannya terputus)
(2)Ahmad (anaknya Fathimah ibu dari Ali dan Abdullah bin Alwi bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam),
(3)Abdul Malik Azmatkhan keturunannya menyebar di India dan di Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand, dan Asia tenggara yang dikenal dengan nama AZMATKHAN (leluhur Wali Songo).
(3)Abdurahman, keturunannya keluarga al-Bahasyim, al-Bin Semith, al-Bin Thahir, al-Ba'bud Maghfun, al-Bafaraj, al-Haddad, al-Basuroh, al-Bafaqih, al-Aidid, al-Baiti Auhaj.

* ISTRI AL-IMAM ABDUL MALIK AZMATKHAN:

Istri dari Imam Abdul Malik Azmatkhan adalah Putri Raja Kesultanan Islam Nasarabad India Lama, yang bernama Ummu Abdullah.

* ANAK-ANAK AL-IMAM ABDUL MALIK AZMATKHAN:

Imam Abdul Malik Azmatkhan memiliki 4 anak, 2 laki-laki, dan 2 Perempuan, yaitu:
(1)As-Sayyid Alwi Faqih Khan (Leluhur Azmatkhan India, keturunannya banyak di Haedarabad India, Pakistan, Bangladesh)
(2)As-Sayyid Amir Abdullah Azmatkhan (Leluhur Walisongo, Keturunannya banyak di Asia Tenggara)
(3)Syarifah Zainab Azmatkhan (nasabnya terputus)
(4)Syarifah Fathimah Azmatkhan (nasabnya terputus)

* GELAR - GELAR AL-IMAM AS-SAYYID ABDUL MALIK AZMATKHAN :

Menurut As-Sayyid Bahruddin Al-Husaini, menjelaskan bahwa gelar yang disandang oleh As-Sayyid Abdul Malik azmatkhan adalah:
Al-Malik Lil Muslimiin = Raja Bagi Kaum Muslimin
Al-Malik Min 'Alawiyyiin = Raja dari Ahlul Bait Imam Ali
Al-Khalifah Lil Mukminiin = Khalifah bagi Kaum mukmin
Al-Mursyid = Mursyid bagi beberapa tarekat
An-Naaqib = Pakar dalam Ilmu Nasab
Al-Muhaddits = Menghafal Ribuan Hadits
Al-Musnid = Memiliki banyak sanad keilmuan
Al-Qutub = Wali Qutub pada masanya
Al-Wali = Seorang Waliyullah
Abu Al-Muluuk = Ayah dan datuk bagi para Raja
Abu Al-Awliyaa' = Ayah dan datuk bagi para Wali Songo
Abu Al-Mursyidiin = Ayah dan datuk bagi para Mursyid
Syaikhul Islam = Guru Besar Islam
Imamul Mujaahidiin = Imam Mujtahid
Al-Faqiihul Aqdam = Ahli Fiqih Yang paling utama
Al-Mujahid Fii Sabiilillah = Pejuang di Jalan Allah
Al-Hafiizhul Qur'an = Penghafal Qur'an
Shohibul Karomah = Wali Allah yang banyak Karomah
Amirul Mukminin = Pemimpin Pemerintahan Islam

* KARYA TULIS IMAM 'ABDUL MALIK 'AZMATKHAN:
1. Tafsir Ma'rifatul Furqan Li 'Abdul Malik Azmatkhan ( تفسير معرفة الفرقان لعبد الملك العظمت خان), yaitu tafsir sufistik berbahasa Arab karya Imam 'Abdul Malik 'Azmatkhan bin 'Alwi 'Ammul Faqih bin Muhammad Shohib Marbath.
2. Al-Adzkaar Al-Azmatkhaniyyah Li Tholabi Mardhotillah ( الأذكار العظمت خانية لطلب مرضات الله), yaitu kitab kumpulan dzikir, doa, wirid, hizib yang ditulis dan diamalkan oleh Imam 'Abdul Malik 'Azmatkhan bin 'Alwi 'Ammul Faqih bin Muhammad Shohib Marbath.
3. Qur'an Kaa Tarjamah (قران کا ترجمہ), yaitu terjemahan al-qur'an ke bahasa Urdu yang diterjemahkan oleh Imam 'Abdul Malik 'Azmatkhan bin 'Alwi 'Ammul Faqih bin Muhammad Shohib Marbath.

* NAMA FAM AZMATKHAN DALAM ILMU NASAB:
Nama Azmatkhan berasal dari penggabungan dua kata dalam bahasa Urdu. “Azmat” berarti; mulia, terhormat. Dan “Khan” memiliki arti setara seperti Komandan, Pemimpin, atau Penguasa. Nama ini disandangkan kepada Al-Imam As-Sayyid Abdul Malik setelah beliau menjadi menantu bangsawan Nasarabad. Mereka bermaksud memberi beliau gelar “Khan” sebagai bangsawan sekaligus penguasa setempat sebagaimana keluarga yang lain. Hal ini persis dengan apa yang dialami Sayyid Ahmad Rahmatullah ketika diberi gelar “Raden Rahmat” setelah menjadi menantu bangsawan Majapahit. Namun karena Sayyid Abdul Malik dari bangsa “syarif” (mulia) keturunan keturunan Al-Husain putra Fathimah binti Rasulillah SAW, maka mereka menambah kalimat “Azmat” sehingga menjadi “Azmatkhan”. Dengan huruf arab, mereka menulis عظمت خان bukan عظمة خان, dengan huruf latin mereka menulis “Azmatkhan”, bukan “Adhomatu Khon” atau “Adhimat Khon” seperti yang ditulis sebagian orang.

* WAFAT & MAKAM AL-IMAM ABDUL MALIK AZMATKHAN:
Imam 'Abdul Malik Azmatkhan wafat di Nasarabad India, pada tahun 653 Hijriyyah.

* KESAKSIAN PARA AHLI NASAB TENTANG FAM AZMATKHAN:
1. KESAKSIAN PERTAMA:
Menurut As-Sayyid Salim bin Abdullah Asy-Syathiri Al-Husaini (Ulama' asli Tarim, Hadramaut, Yaman), berkata: "Keluarga Azmatkhan (Walisongo) adalah dari Qabilah Ba'Alawi asal hadhramaut Yaman gelombang pertama yang masuk di Nusantara dalam rangka penyebaran Islam (Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala merahmati keluarga Azmatkhan) Sesuai dengan namanya, yang berarti “Pemimpin dari keluarga Mulia” .
2. KESAKSIAN KEDUA:
Menurut H.M.H. Al-Hamid Al-Husaini dalam bukunya “Pembahasan Tuntas Perihal Khilafiyah”, dia berkata:
"Sayyid Abdul Malik bin Alwi lahir di kota Qasam, sebuah kota di Hadhramaut, sekitar tahun 574 Hijriah. Ia meninggalkan Hadhramaut pergi ke India bersama jama’ah para Sayyid dari kaum Alawiyyin. Di India ia bermukim di Naserabad. Ia mempunyai beberapa orang anak lelaki dan perempuan, di antaranya ialah Sayyid Amir Khan Abdullah bin Sayyid Abdul Malik, lahir di kota Nashr Abad, ada juga yang mengatakan bahwa ia lahir di sebuah desa dekat Naserabad. Ia anak kedua dari Sayyid Abdul Malik
Sejarah mencatat meratanya serbuan dan perampasan bangsa Mongol di belahan Asia. Diantara nama yang terkenal dari penguasa-penguasa Mongol adalah Khubilai Khan. Setelah Mongol menaklukkan banyak bangsa, maka muncullah Raja-raja yang diangkat atau diakui oleh Mongol dengan menggunakan nama belakang “Khan”, termasuk Raja Naserabad, India.
Setelah Sayyid Abdul Malik menjadi menantu bangsawan Naserabad, mereka bermaksud memberi beliau gelar “Khan” agar dianggap sebagai bangsawan setempat sebagaimana keluarga yang lain. Hal ini persis dengan cerita Sayyid Ahmad Rahmatullah ketika diberi gelar “Raden Rahmat” setelah menjadi menantu bangsawan Majapahit. Namun karena Sayyid Abdul Malik dari bangsa “syarif” (mulia) keturunan Nabi, maka mereka menambah kalimat “Azmat” yang berarti mulia (dalam bahasa Urdu India) sehingga menjadi “Azmatkhan”. Dengan huruf arab, mereka menulis عظمت خان bukan عظمة خان, dengan huruf latin mereka menulis “Azmatkhan”, bukan “Adhomatu Khon” atau “Adhimat Khon” seperti yang ditulis sebagian orang.
Sayyid Abdul Malik juga dikenal dengan gelar “Al-Muhajir Ilallah”, karena beliau hijrah dari Hadhramaut ke India untuk berda’wah, sebagaimana kakek beliau, Sayyid Ahmad bin Isa, digelari seperti itu karena beliau hijrah dari Iraq ke Hadhramaut untuk berda’wah
Nama putra Sayyid Abdul Malik adalah “Abdullah”, penulisan “Amir Khan” sebelum “Abdullah” adalah penyebutan gelar yang kurang tepat, adapun yang benar adalah Al-Amir Abdullah Azmatkhan. Al-Amir adalah gelar untuk pejabat wilayah. Sedangkan Azmatkhan adalah marga beliau mengikuti gelar ayahanda.
Sebagian orang ada yang menulis “Abdullah Khan”, mungkin ia hanya ingat Khan-nya saja, karena marga “Khan” (tanpa Azmat) memang sangat populer sebagai marga bangsawan di kalangan orang India dan Pakistan. Maka penulisan “Abdullah Khan” itu kurang tepat, karena “Khan” adalah marga bangsawan Pakistan asli, bukan marga beliau yang merupakan pecahan marga Ba’alawi atau Al-Alawi Al-Husaini.
Ada yang berkata bahwa di India mereka juga menulis Al-Khan, namun yang tertulis dalam buku nasab Alawiyyin adalah Azmatkhan, bukan Al-Khan, sehingga penulisan Al-Khan akan menyulitkan pelacakan di buku nasab.
Sayyid Abdullah Azmatkhan pernah menjabat sebagai Pejabat Diplomasi Kerajaan India, beliaupun memanfaatkan jabatan itu untuk menyebarkan Islam ke berbagai negeri. Sejarah mencatat bagaimana beliau bersaing dengan Marcopolo di daratan Cina, persaingan itu tidak lain adalah persaingan didalam memperkenalkan sebuah budaya. Sayyid Abdullah memperkenalkan budaya Islam dan Marcopolo memperkenalkan budaya Barat. Sampai saat ini, sejarah tertua yang kami dapat tentang penyebaran Islam di Cina adalah cerita Sayyid Abdullah ini. Maka bisa jadi beliau adalah penyebar Islam pertama di Cina, sebagaimana beberapa anggota Wali Songo yang masih cucu-cucu beliau adalah orang pertama yang berda’wah di tanah Jawa.
Ia (Sayyid Abdullah) mempunyai anak lelaki bernama Amir Al-Mu’azhzham Syah Maulana Ahmad.” Nama beliau adalah Ahmad, adapun “Al-Amir Al-Mu’azhzham” adalah gelar berbahasa Arab untuk pejabat yang diagungkan, sedangkan “Syah” adalah gelar berbahasa Urdu untuk seorang Raja, bangsawan dan pemimpin, sementara “Maulana” adalah gelar yang dipakai oleh muslimin India untuk seorang Ulama besar.Sayyid Ahmad juga dikenal dengan gelar “Syah Jalaluddin”.
Maulana Ahmad Syah Mu’azhzham adalah seorang besar, Ia diutus oleh Maharaja India ke Asadabad dan kepada Raja Sind untuk pertukaran informasi, kemudian selama kurun waktu tertentu ia diangkat sebagai wazir (menteri). Ia mempunyai banyak anak lelaki. Sebagian dari mereka pergi meninggalkan India, berangkat mengembara. Ada yang ke negeri Cina, Kamboja, Siam (Tailand) dan ada pula yang pergi ke negeri Anam dari Mongolia Dalam (Negeri Mongolia yang termasuk di dalam wilayah kekuasaan Cina). Mereka lari meninggalkan India untuk menghindari kesewenang-wenangan dan kezhaliman Maharaja India pada waktu terjadi fitnah pada akhir abad ke-7 Hijriah.
Di antara mereka itu yang pertama tiba di Kamboja ialah Sayyid Jamaluddin Al-Husain Amir Syahansyah bin Sayyid Ahmad. Ia pergi meninggalkan India tiga tahun setelah ayahnya wafat. Kepergiannya disertai oleh tiga orang saudaranya, yaitu Syarif Qamaruddin. Konon, dialah yang bergelar ‘Tajul-muluk’. Yang kedua ialah Sayyid Majiduddin dan yang ketiga ialah Sayyid Tsana’uddin.”
Sayyid Jamaluddin Al-Husain oleh sebagian orang Jawa disebut Syekh Jumadil Kubro. Yang pasti nama beliau adalah Husain, sedangkan Jamaluddin adalah gelar atau nama tembahan, sehingga nama beliau juga ditulis “Husain Jamaluddin”. Adapun “Syahansyah” artinya adalah Raja Diraja. Namun kami yakin bahwa gelar Syahansah itu hanyalah pemberian orang yang beliau sendiri tidak tahu, karena Rasulullah SAW melarang pemberian gelar Syahan-syah pada selain Allah.
Sayyid Husain juga memiliki saudara bernama Sulaiman, beliau medirikan sebuah kesultanan di Tailand. Beliau dikenal dengan sebutan Sultan Sulaiman Al-Baghdadi, barangkali beliau pernah tinggal lama di Baghdad. Nah, Sayyid Husain dan Sayyid Sulaiman inilah nenek moyang daripada keluarga Azmatkhan Indonesia, setidaknya yang kami temukan sampai saat ini.
3. KESAKSIAN KETIGA:
Menurut Sayyid Ali bin Abu Bakar As-Sakran dalam Kitab Nasab yang bernama Al-Jawahir Al-Saniyyah, berkata: "Al-Azmatkhan adalah fam yang dinisbatkhan kepada Al-Imam As-Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin 'Alawi 'Ammil Faqih".
4. KESAKSIAN KEEMPAT:
Menurut Ad-Dawudi dalam Kitab Umdatut Thalib berkata, ""Al-Azmatkhan adalah fam yang dinisbatkhan kepada Al-Imam As-Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin 'Alawi 'Ammil Faqih, dan keturunannya masih ada sampai sekarang ini melalui jalur Walisongo di Jawa".
5. KESAKSIAN KELIMA:
Penelitian sayyid Zain bin abdullah alkaf dalam kitabnya "Ilhaafun Nazhooir" yang dikutip dalam buku khidmatul 'asyirah karangan Habib Ahmad bin Abdullah bin Muhsin Assegaf; MEMBENARKAN & MEM-VALID-KAN nasab jalur Azmatkhan.
6. KESAKSIAN KEENAM:
Penelitian Al-Alammah As-Sayyid Abdurrahman bin Muhammad Husain Al-Masyhur dalam Kitab Syamsud Zhahirah, yang memvalidkan nasab jalur Azmatkhan.
7. KESAKSIAN KETUJUH
Kesaksian dari Sayyid Ali bin Ja'far Assegaf Palembang.
Bermula silsilah wali songo ditemukan oleh sayid Ali bin Ja’far Assegaf pada seorang keturunan bangsawan Palembang. Dalam silsilah tersebut tercatat tuan Fakih Jalaluddin yang dimakamkan di Talang Sura pada tanggal 20 Jumadil Awal 1161 hijriyah, tinggal di istana kerajaan Sultan Muhammad Mansur mengajar ilmu ushuluddin dan alquran. Dalam silsilah tersebut tercatat nasab seorang Alawiyin bernama sayid Jamaluddin Husein bin Ahmad bin Abdullah bin Abdul Malik bin Alwi bin Muhammad Shohib Mirbath, yang mempunyai tujuh anak laki. Di samping itu tercatat pula nasab keturunan raja-raja Palembang yang bergelar pangeran dan raden, nasab Muhammad Ainul Yaqin yang bergelar Sunan Giri.

* KESAKSIAN KEDELAPAN:
Penelitian As-Sayyid Muhammad bin Ahmad bin Umar Asy-Syathiri dalam Kitab Al-Mu'jam Al-Lathif.

* KHILAFAH AZMATKHAN
Keluarga Azmatkhan sejauh ini tercatat memimpin banyak Kesultanan atau Kerajaan di Asia Tenggara. Diantaranya :
(1)Kesultanan Nasirabad – India
(2)Kesultanan Adipati Bagelen
(3)Kesultanan Adipati Bangkalan – Madura
(4)Kesultanan Adipati Gerbang Hilir
(5)Kesultanan Adipati Jayakarta
(6)Kesultanan Adipati Manonjaya
(7)Kesultanan Adipati Pajang
(8)Kesultanan Adipati Pakuan
(9)Kesultanan Adipati Sukapura
(10)Kesultanan Adipati Sumenep
(11)Kesultanan Adipati Tasikmalaya
(12)Kesultanan Ampel Denta – Surabaya
(13)Kesultanan Banten
(14)Kesultanan Campa (Kamboja)
(15)Kesultanan Cirebon Larang / Carbon Larang
(16)Kesultanan Demak Bintoro
(17)Kesultanan Giri Kedaton
(18)Kesultanan Kacirebonan – Cirebon
(19)Kesultanan Kanoman – Cirebon
(20)Kesultanan Kasepuhan – Cirebon
(21)Kesultanan Kedah - Malaysia (Ada tautan dari pihak wanita Azmatkhan)
(22)Kesultanan Kelantan – Malaysia
(23)Kesultanan Mangkunegaran (ada tautan dari pihak wanita Azmatkhan)
(24)Kesultanan Mataram Islam (ada tautan dari pihak wanita Azmatkhan)
(25)Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat (ada tautan dari pihak wanita Azmatkhan)
(26)Kasunanan Surakarta Hadiningrat (ada tautan dari pihak wanita Azmatkhan)
(27)Kesultanan Pakualaman
(28)Kesultanan Palembang Darusalam
(29)Kesultanan Patani – Thailand
(30)Kesultanan Sumedang Larang / Sunda Larang
(31)Kesultanan Surabaya (Kelanjutan Kesultanan Ampel Denta)
(32)Kesultanan Ternate
(33)Keratuan Darah Putih, Lampung

* DAFTAR KEPUSTAKAAN (BUKU-BUKU YANG MENJELASKAN) TENTANG AZMATKHAN :
Sayyid Ahmad bin Anbah,Umdatuth Thaalib Fii Ansaabi Aali Abi Thaalib
Sayyid Ali As-Samhudiy, Jawaahir Al-Aqdaini Fii Ansaabi Abnaai As-Sibthaini
Sayyid Abu Thalib Taqiyyuddin An-Naqiibi, Ghaayatu Al-Ikhtishoori Fii Al-buyuutaati Al-'Alawiyyati Al-Mahfuzhati Min Al-Ghayyaari.
As-Sayyid Al-Muhaddits Husain bin Abdurrahman Al-Ahdali, Tuhfatuz Zaman Fii Taariikhi Saadaatil Yamani
As-Sayyid Abu Fadhal Muhammad Al-Kazhimi Al-Husaini, An-Nafkhah Al-Anbariyyah Fii Ansaabi Khairil Bariyyah
As-Sayyid Dhoomin bin Syadqam, Tuhfatul Azhaari Fii Ansaabi Aal An-Nabiyyi Al-Mukhtaari
As-Sayyid Ahmad bin Hasan Al-Attas, Uquud Al-Almaas
Sayyid Jamaluddin Abdullah Al-Jurjaani Al-Husaini, Musyajjarah Al-Mutadhammin Ansaabi Ahlilbaiti Ath-Thaahiri
As-Sayyid Al-Imam Muhammad bin Ahmad bin 'Amiiduddin Al-Husaini An-Najafiy, Kitab Bahrul Ansaabi
As-Sayyid Murtadha Az-Zabiidi, Al-Musyajjir Al-Kasysyaaf Li Ushuulis Saadah Al-Asyraaf
As-Sayyid Husain bin Muhammad Ar-Rifaa'i Al-Mishri, Bahrul Ansaabil Muhiith
As-Sayyid 'Ali bin Abi Bakar asy-Syakran, Al-Jawaahir As-Saniyyah Fii Ansaabi Al-Husainiyyah
As-Sayyid Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur Al-Husaini Al-Hadrami, Kitab Syamsuzh Zhahiirah
As-Sayyid Ahmad bin Abdullah bin Muhsin Assegaff, Khidmah Al-'Asyiirah Bi Tartiibi wa Talkhiishi Wa Tadzliili Syamsizh Zhahiirah
As-Sayyid Dhiyaa'u Syihaab, Ta'liiqaat Mabsuuthah Wa Mufashsholah 'Alaa Syamsizh Zhahiirah
As-Sayyid Umar bin Alawi Al-Kaff, Al-Faraayid Al-Jauhariyyah Fii Tarraajumi Asy-Syaharah Al-'Alawiyyah
As-Sayyid Umar bin Abdurrahman bin Shihabuddin, Syajaratul Alawiyyah
As-Sayyid Muhammad bin Ahmad bin Umar Asy-Syathiri, Kitab Al-Mu'jam Al-Lathif
As-Sayyid Bahruddin Ba'alawi Al-Husaini, Ansaabi Wali Songo,
As-Sayyid Abi Al-Mu'ammar Yahya bin Muhammad bin Al-Qasim Ba'alawi Al-Husaini, Kitab Abnaaul Imam Fii Mishra Was Syaami Al-Hasani Wal Husaini,
As-Sayyid Al-Qalqasandiy Al-Hasani, Nihaayatul Urabi Fi Ma'rifati Al-Ansaabi Al-'Arabi,
Al-Imam Abi Sa'di Abdil Karim bin Muhammad bin Mansur At-Tamimiy As-Sam'aaniy, Kitab Al-ansaab
Al-Imam Ahmad bin Yahya bin Jabir Al-Balaadiri,Kitabu Al-Jumali Min Ansaabil Asyraaf

KAROMAH AL-FAQOH AL-MUQODDAM (PART 2)



* Kisah Kekeramatan Al-Faqih Al-Muqaddam RA
Berkata As-Syech Abdullah Al-Idrus didalam Kitab beliau;”Al-Mawahib Al-Quddusiyah”As-Syech Ibrahim Baharwaz As-Syibamy mengatakan :”Di Syibam masih disimpan Kitab-kitab yang menceritakan kekeramatan Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali Ra yang berjumlah lebih kurang seratus Riwayat mengenai kekeramatan beliau” Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam mempunyai Ahklak yang mulia, beliau dengan Ketawadhu’annya membawa sendiri ikan yang beliau beli dari pasar ke rumah. Beliau selalu melazimkan Al-khumul.
Kekeramatan Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra sangatlah banyak beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Berzikirnya pohon & batu-batu di Wadi An-Nua’ar.
Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam telah melakukan Riyadhah & Mujahadah yang sangat luar biasa, & beliau telah ber-Uzlah dilembah An-Nu’air selama setahun beribadah siang dan malam, pada satu kesempatan anak beliau; As-Syech Ahmad mengikuti beliau ke Wadi An-Nu’air maka tatkala ia sampai di lembah tersebut dia melihat Al-Faqih Al-Muqaddam sedang berzikir Jahr , dilihat oleh As-Syech Ahmad seluruh yang ada di lembah tersebut termasuk seluruh batu-batu dan pohon-pohon berzikir mengikuti Al-Faqih Al-Muqaddam lalu pingsanlah anak beliau As-Syech Ahmad yang dikala itu masih muda kemudian ketika dia sadar ayah beliau :"Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam memperingatinya agar jangan mengulangi mengikuti beliau ber-Uzlah di lembah tersebut.
2. Suara dari langit
Sayyidina Al-Faqih Ra didalam Bidayahnya mendengarkan seruan dari langit;“Wahai Faqih Muhammad bin Ali, tingalkanlah urusan-urusanmu yang bersifat Zhohiriyah, menghadaplah engkau keharibaan kami, kamipun akan menyampaikan dan menolongmu, sesungguhnya kami mempunyai keinginan pada dirimu dan bagimu dari kami ni’mat yang selalalu bertambah, lazimkanlah dirimu selalu ber-tafrid didalam Tauhid, dan ber-Tajrid di dalam Tafrid, kami akan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kekuasaan kami dan kami akan memberikan engkau keutamaan, maka jangan engkau jadikan keinginan kami tersamar dalam keinginanmu, dan jadikan kepada kami awal tujuanmu dan kembalimu, dan jangan engkau alihkan tujuanmu selain kepada kami sesungguhnya kami mempunyai hamba-hamba yang Khusus yang akan kami sampaikan hajat-hajat mereka darimu kepada kami”
3. Air yang naik dengan perintah beliau
Sayyidina Al-Faqih Ra dalam usia remaja yaitu ketika beliau masih belajar disalah satu Majlis Ta’lim di Masjid Tarim, beliau tertidur pulas ketika telah masuk waktu sholat, padahal bilamana ada siswa yang meninggalkan sholat berjama’ah akan dihukum oleh gurunya (demikianlah pengajaran ketat diTarim pada waktu itu yang betujuan untuk mendidik para siswanya untuk mengikuti sunnah-sunnah Rasul Allah SAW) sampai akhirnya para siswa sudah bersiap-siap untuk sholat berjama’ah Sayyidina Al-Faqih Ra masih tertidur, ketika beliau bangun beliau mengisyaratkan dengan tangan beliau kesumur Fa yaa amalii wa yaa sakanii wa yaa unsii wa mulhimati. Yathiibul 'aisyu mahmaa dhooqotil ayyamu in thibti :"Duhai harapanku, duhai ketenanganku, duhai kedamaianku, duhai ilhamku.Indahnya hidup Masjid tiba tiba air pun naik dengan seizin Allah SWT lalu Sayyidina Al-Faqih Ra berwudhu’ dan tidak ketinggalan sholat berjama’ah.
4. Pembantu beliau yang hilang
Diriwayatkan bahwa Sayyidina Al-Faqih mempunyai seorangpembantu yang bernama“Khuraishoh” Khuraishoh ini sudahlama pergi dan tidak tahu lagi khabarnya hidup atau mati, makabertanyalakeluarganya kepadaSayyidina Al-Faqih, Sayyidina Al-Faqih Ra kemudian terdiam sejenaklalu beliau mengangkat kepalanya kelangit, kemudian Sayyidina Al-FaqihRa menjawab;”Abu Khuraishoh belum mati”kemudian keluarga Abu Khuraishohbertanya lagi;”Bagaimanakah anda mengatakanAbu Khuraishoh belum matipadahal khabar kematiannya sudahmenyebar?”, Sayyidina Al-Faqih Ramenjawab;”Aku telah melihat ke setiap istana yang berada di Syurga, dan AbuKhuraishoh tidak ada disana”keluarga Abu Khuraishoh bertanyalagi;”Coba anda lihat di Nerakabarangkali Abu Khuraishoh disana?” Sayyidina Al-Faqih Ra marah laluberkata;”Sungguh tidak akan masuk nerakapara pembantuku”. Tak lama berselang Abu Khuraishoh pulang, dengan tidak kekurangan sesuatu apapun.
5. Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra & Nabi Hud As
Diriwayatkan bahwa Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali Ra berkata;”Sungguh sekali dalam satu tahun aku tidak berziarah kepada Nabi Allah Hud As, maka ketika aku sedang duduk disatu tempat yang atapnya tinggi tiba-tiba datang kepadaku Nabi Allah Hud As, yang menundukkan kepalanya ketika hendak masuk, tatkala ia telah dekat denganku beliau ia berkata;”Wahai Syech Al-Faqih bilamana engkau tidak berziarah kepada kami, maka kamilah yang akan berziarah kepadamu”aku bertanya kepada beliau;”Wahai Nabi Allah Hud As dari manakah anda tadi?”beliau menjawab;”Aku dari mendatangi anakku Hadun”.
6. Mi’rajnya Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra
Murid Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra, yaitu As-Syech Sa’id bin Umar Lihaf selalu menyaksikan Sayyidina Al-Faqih Ra Mi’raj kelangit setiap malam, dan hal ini memang atas perintah Sayyidina Al-Faqih Ra, bilamana beliau melihat sesuatu, maka hal tersebut diberitahukan kepada Sayyidina Al-Faqih Ra, pada satu ketika Sayyidina Al-Faqih Ra baru turun dari Mi’raj beliau As-Syech Sa’id melihat sesuatu yang berkilau berbentuk bulat melekat dibaju Sayyidina Al-Faqih Ra kemudian diambil oleh As-Syech Sa’id, kemudian diberitahukannya kepada Sayyidina Al-Faqih Ra, Sayyidina Al-Faqih tersenyum dan berkata;“Wahai Lahif kami mendapatkan yang engkau pegang itu dari langit sedangkan engkau mengambilnya dari bajuku tanpa bersusah payah” Dari As-Syech Al-Arifbillah Fadl binAbdullah Ra beliau berkata :”Sesungguhnya onta Sayyidina Al-Faqih Ra mengetahui jalan dilangit sebagaimana jalan di Bumi”.
(mengenai mi'rajnya para Awlliya yang berkali-kali bukanlah berarti melebihi mi'rajnya Baginda Rasul Allah SAW yang hanya sekali, karena walau bagaimanapun Mi'rajnya Rasul SAW dalam konteks KeNabian yang nilainya jauh lebih tinggi dari Mi'rajnya para Wali yang mi'rajnya hanya dalam konteks Kewalian)
7. Al-Faqih Al-Muqaddamr.a & kebun kurma yang terbakar
Sayyidina Al-Faqih Ra mempunyai satu kebiasaan, yaitu beliaubilamana pada waktu pagi selaluberkata pada teman-teman beliau;"Siapakah diantara kalian yang bermimpi semalam?”dan bilamanaada diantara teman-teman SayyidinaAl-Faqih yang bermimpi merekaakan menceritakannya padaSayyidina Al-Faqih Ra.Pada satu ketika ada seseorang yangsebenarnya berhajat kepada Sayyidina Al-Faqih Ra ynag berktakepada beliau berpura pura iabermimpi katanya;”Sungguh aku telah bermimpi semalam, seolah Dunia telah kiamatdan seolah-olah ada yangmenyeru;”Mana Junaid? Mana Fulanbin fulan ia menyebutkan beberapaWali”, kemudian sipenyeru ini berseru lagi;”Dimanakah As-SyechAl-Faqih Al-Muqaddam ?”ada yangmenjawab; ”As-Syech Al-Faqih sedang asyik dengan kurmanya”karena itulah yang membuat Duniamenjadi Kiamat As-Syech Al-Faqihtelah lupa mengurus perkara-perkara Allah SWT dan Makhluk-Nya”maka tatkala Sayyidina Al-Faqihmendengarkan penuturan lelakitersebut tiba-tiba Sayyidina Al-Fqih beteriak;”Terbakarlah Kurma!”,lalu terbakarlah kebun kurmaSayyidina Al-Faqih Ra, laluberkatalah orang tersebut dengannada menyesal; ”Sungguh aku telah berbohong agar engkaumembagikan kepada kami kurmamu”Sayyidina Al-Faqihmenjawab, “Tidak ada kepentinganbagiku terhadap segala sesuatuyang menjauhkan aku kepadaTuhan-ku walaupun engkau berbohong”.Tempat kurma Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra, semuanyaberjumlah 300 buah yang digunakan untuk menampungkurma yang akan dibagikan kepada fakir miskin
8. Kisah beliau guru beliau As-Syech Ali Bamarwan Ra
Dalam cerita yang masyhur yaitu kejadian antara Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam dan guru Fiqh beliau As-Syech Ali Bamarwan dikisahkan, bahwa Sayyidina Al-Faqih Ra setelah menerima Khirqah dari As-Syech
Abdullah As-Sholeh Al-Maghriby Ra, dijauhi oleh As-Syech Ali Bamarwan dengan maksud agar Sayyidina Al-
Faqih menekuni kembali Dunia Fiqh karena As-Syech Ali Bamarwan menginginkan Sayyidina Al-Faqih menjadi Imam bagi para Faqih, sebagaimana yang dikatakannya kepada Sayyidina Al-Faqih;”Aku menginginkanmu menjadi Imam kami (Ahli Fiqh) sebagaimana Ibnu Fuwraq, sedangkan engkau sekarang mengambil jalan Tasawwuf dan menjauhi kami”As-Syech Ali Bamarwan tetap menjauhi Sayyidina Al-Faqih sampai akhir hayatnya tatkala As-Syech Ali Bamarwan sakit yang telah parah Sayyidina Al-Faqih Ra sedang berada di ‘Ajz yaitu satu daerah di pedalaman Hadhramaut, jaraknya dari Hadhramaut berkisar setengah hari perjalanan, segera menemui As-Syech Ali Bamarwan tetapi Sayyidina Al-Faqih Ra terlambat dan As-Syech Ali Bamarwan telah wafat dan telah dikebumikan, Sayyidina Al-Faqih lantas beri’tikaf di Masjid , tak lama setelah Sayyidina Al-Faqih Ra beri’tikaf, dengan seizin Allah As-Syech Ali Bamarwan yang telah dikebumikan hidup kembali dan menemui Sayyidina Al-Faqih Ra pada waktu Shubuh, mereka berduapun terlibat percakapan, Sayyidina Al-Faqih Ra bertanya kepada As-Syech Ali Bamarwan;”Bagaimanakah aku disisi kalian Ahli kubur?” As-Syech Ali Bamarwan menjawab;”Kami semua (ahli barzakh) mengharapkan engkau menjadi Imam sebagaimana ahli Dunia memintamu menjadi Imam” Tatkala mereka sedang bercakap-cakap, tiba-tiba datanglah Hamid (Mu’azzin di Masjid itu) yang hendak melakukan Azan Shubuh iapun menyaksikan kejadian luar biasa tersebut yaitu bertemunya As-Syech Ali Bamarwan yang sudah wafat dengan Sayyidina Al-Faqih Ra, Hamid meminta Do’a kepada mereka berdua, Hamid yang merasa tidak kuat untuk tidak bercerita kepada masyarakat luas meminta izin kepada Sayyidina Al-Faqih Ra agar ia dizinkan untuk memberitahukan kejadian tersebut kepada masyarakat, ia terus meminta izin sampai akhirnya Sayyidina Al-Faqih meminta Hamid agar tidak menceritakan hal tersebut kemasyarakat luas selagi Sayyidina Al-Faqih Ra masih hidup, dan Hamid pun mematuhi permintaan Sayyidina Al-Faqih Ra sehingga pada waktunya, yaitu setelah Sayyidina Al-Faqih Ra meninggal, Hamid yang tidak kuasa lagi menyimpan pengalaman luar biasa yang dia
alami menceritakan kejadian tersebut ia berteriak dengan suara lantang kemasyarakat yang sedang
menghadiri pemakaman Sayyidina Al-Faqih Ra.

KAROMAH AL-FAQIH AL-MUQODDAM



1. Pertolongan dengan al-madad & barokah beliau
Diceritakan oleh A-SyechMuhammad bin Ali bin Al-Faqih Ahmad bin Abu Alwi R.anhum daripaman beliau A-SyechbMuhammadbin Al-Faqih Ahmad Ra beliau bercerita;”Aku bermusafir dari Zhofar hendakmenuju Syihr dengan perbekalanyang kami angkut dengan onta, pada waktu kami telah sampai diGhizoh yang banyak rusak jalannya,jatuhlah perbekalan kamiberantakan diatas gunung,rombongan kamipun merasa cemas terhadap para penduduk Ghizoh,karena mereka seringkali bila adarombongan Khafilah yang perbekalannya berantakan
merekapun merampasnya sampai tidak ada lagi yang tersisa bagipemiliknya.Para penduduk Ghizohketika melihat keadaan rombongankami yang sedemikian rupa,merekapun berbondong-bondongmenaiki kuda mereka, hendakmenghampiri kami denganbertujuan merampas harta bendakami.Ketika itu juga, akuberistighatsah kepada kakekku;Sayyidina Al-Faqih Ra belumlahsempat kuselesaikan Tawasulku,tiba-tiba rombongan kami terangkatdiudara dan mendarat disatu
lapangan yang agak jauh dari parapenduduk seolah-olah ada yangmembawa kami dan melemparkankami, kamipun selamat dan merasalega, para penduduk Ghizoh punberlaku baik kepada kami, merekamalahan membanatu kamimengemasi barang-barang,mereka
kami beri upah, salah satu darimereka memberitahu kepada kami,tatkala rombongan kami terangkat diudara,ia berkata;”Ketika akumelihatmu sedang berdo’a danbertawassul tadi, aku melihatseseorang yang berjubah danbersorban putih yang terbang dan
mengangkat dan memindahkanrombongan kalian dari gunungkelapangan”, aku lalumemberitahukan kepadanya;”Sungguh aku bilamana sedangtertimpa kesusahan akuberistighatsah kepada kakekkuSayyidina Al-Faqih Ra dan denganseizin Allah kesusahanku akan hilang pada saat itu juga”.sekaliwaktu aku baru sampai dariHabasyah dan aku membawabarang bawaan yang banyak, ketikaaku sampai di kota Adn aku merasa bingung karena Amir Adn padawaktu itu suka merampasperbekalan orang asing yangmelintas di Adn, lalu akupunbertawassul dan beristighatsahkepada kakekku Sayyidina Al-FaqihRa, setelah itu akupunbaru turundari kapal tatkala aku telah turunkedarat,tiba-tiba ada seorang laki-laki yang berkta kepadaku;”Bawalah barang-barangmu dan berjalanlahdari arah sana”sambil menunjukkesatu arah, lalu akupun berjalandiarah yang ia tunjukkankepadaku,sampai akhirnyasampailah aku dijalan besar di Adndan selama itu akupun tidak
mendapati seseorangpun yangmenghentikan perjalananku danmengambil barang bawaanku
sampai akhirnya selamatlah akusampai ditujuan semuanya itudengan Rahmat Alllah SWT dan
barakah dari kakekku Sayyidina Al-Faqih Ra”Diriwayatkan dari As-Syech Al-ArifBillah Alwi bin Ahmad bin Al-Faqih
bin Abu Alwi R.anhum beliauberkata;”Aku bermusafir denganberombongan dari Hadhramautsalah seorang rombongan adalahAs-Sayyid Muhammad bin Ali Al-
Khatib R.a ke Yaman maka kamipunberlayar dengan kapal daripelabuhan di kota Syihr, lalukamipun berlayar, tapi ketika kamisampai ditengah laut, tiba-tiba adabadai yang menerpa kami yang membuat kapal kami hancur
berkeping-keping, akupunberpegangan dengan sekeping kayu,dalam keadaan sedemikian rupa,aku beritighatsah dengan dengankakekku, As-Syech Al-FaqihMuhammad bin Ali Ra,makabelumlah sempurna kalimatku tiba-
tiba ada tali yang ujungnya tidak adamenjulur dari udara kearahku,akupun lalu berpegangan pada taliitu dan tali itu membawaku kedaratdengan selamat, tatkala aku sampaididarat akupun bertemu dengan As-Sayyid Muhammad bin Ali Al-Khatibyang sudah duluan sampai danselamat kedarat, akupun berkata kepadanya;”Bagaimanakahkeadaanmu?”, Ia menjawab;”Segalapuji bagi Allah yang telah menggantikan segala musibah kitadengan keamanan”
Diriwayatkan dari As-Sayyid As-Sholeh Muhammad bin Ali bin Umarbin Abu Alwi Ra beliaubercerita;”Pada sekali waktu akusedang berada di Adn, dan akuingin melakukan perjalanan keHadhramaut dan tidak ada satukemudahan bagiku untukmelakukan perjalanan ke
hadhramaut dan tidak ada satukapalpun di pelabuhan Adn yangbertujuan ke Syihr, keadaan yangsedemikian tersebut membuatpikiranku menjadi kalut, dan aku
merasa takut akan membuat cemaskeluargaku diHadhramaut, padamalamnya aku beristighatsah dengan kakekku Sayyidina Al-FaqihRa sampai akhirnya akupun tertidurakupun bermimpi bertemu dengan
sepupuku seorang Wali yang besaryaitu As-Syech Muhammad bin Ali(namanya sama tapi bukanSayyidina Al-Faqih Ra), yang ingindatang menolongiku maka aku
berkata padanya, “Kenapa engkaudatang aku tidak meinta bantuanmuaku meminta tolong kepada kakekku
Sayyidina Al-Faqih Ra” didalammimpiku aku melihat serombonganBa’alawi yang sedang berkumpul,
lalu turunlah kepada kami SayyidinaAl-Faqih Ra, beliau berkata;”Akudatang untuk menolongi orang yang
meminta pertolonganku di Adnsiapa orangnya?” akupun lalumenjawab;”Akulah orangnya wahaikakekku” kemudian akupun laluterbangun, setelah aku Sholat
Shubuh aku lalu pergi menuju kePelabuhan, menunggu pertolonganyang dijanjikan oleh Sayyidina Al- Faqih Ra, tak lama aku menunggukudapati kapal yang baru datang,yang semuanya menuju ke Syihryang dengan Qudrah-Nyadirapatkan kepelabuhan Adn maka
akupun lalu bisa berlayar denganRahmat Allah SWT dan Barakah darikakekku Sayyidina Al-Faqih Ra.”
2. Hadirnya Sayyidina Al-Faqih dalam sholat Jenazah
Meriwayatkan As-Syech Sa’id bin Umar Lihaf dari anaknya, Muhammad bahwa beliau berkata;”Tidaklah kami sholat atas jenazah seorang Muslim kecuali beliau (As-syech Al-FaqihRa), hadir dan ikut Sholat bersama kami padahal beliau telah wafat”, dan telah berkata As- Syech Abdullah bin Muhammad Abu Ibad Ra; ”Tidaklah kami Sholat atas jenazah, kecuali As-Syech Al-Faqih Ra hadir dan ikut sholat bersama kami” ,berkomentar As-Syech Abdurrahman Al-Khatib Ra,”Sayyidina Al-Faqih Ra mendatangi jenazah mereka, karena Sayyidina Al-Faqih Ra menyayangi kaum Muslimin dan kedatangan beliau dikarenakan untuk memeberikan Syafa’ah Kewilayahan beliau kepada mereka, kalau mereka ditimpa oleh kesusahan, Sayyidina Al-Faqih Ra akan menolongi mereka karena Sayyidina Al-Faqih Ra berakhlak dengan Nama-nama Allah SWT dan dengan Akhlak Baginda rasul Allah SAW,dan telah berfirman Allah SWT kepada Nabi-Nya;”Tidaklah Aku utus engkau wahai Muhammad kecuali agar menjadi Rahmat bagi semesta alam”,seperti itulah keadaan para Nabi dan Awliya’ tidaklah Allah SWT mengutus para Nabi dan mengangkat para Wali, kecuali menjadikan mereka sebagai Rahmat bagi segenap Makhluk-Nya,diriwayatkan bahwa termaktub didalam beberapa Kitab Allah yang diturunkan kepada para Nabi yang terdahulu bahwa berfirman Allah SWT;”Aku adalah Tuhan yang penyayang dan aku tidak menyayangi orang yang yang tidak mempunyai sifat kasih sayang”
3. Keberkahan, Al-Madad, dan Al-Asrar yang diturunkan Allah SWT disisi makam Al-Faqih AlMuqaddam Ra
Banyak Qoul dari para Wali besar yang mengatakan bahwa pada makam Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam banyak diturunkan Rahmat Allah SWT dan disisi makam
beliau banyak terdapat kebaikan, berapa banyak orang yang susah yang dilepaskan dari kesusahannya dan berapa banyak orang yang sakit telah sembuh dari penyakitnya dikarenakan Keberkahan dari Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali Ra.Mengenai
keberkahan dan kemujaraban yang didapatkan dari ber-Istighatsah dan bertawassul disisi makam Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali Ra diceritakan ada seorang lelaki yang matanya bengkak sehingga membuatnya tidak bisa tidur dalam waktu yang lama, ia kemudian pergi kemakam Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra, selanjutnya ia berkisah:
”Ketika aku telah tiba disisi makam Sayyidina Al-Faqih kuletakkan kepalaku disisi makam beliau kemudian aku tertidur sebentar dan ketika aku bangun bengkak pada mataku telah hilang seketika itu juga”
Makam Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra Bercerita As-Syech Ahmad bin Muhammad Abu Harmiy : ”Suatu ketika aku ingin keluar untuk berziarah ke kubur para Awliya’ diZanbal, Tarim, yanng pertama kali kuziarahi adalah kubur para Khutaba’ , ketiaka aku akan
membaca Salam kepada para Ahli kubur , tiba-tiba ada dua orang laki-laki yang memegang kedua tanganku disebelah kanan dan sebelah kiriku kemudian mereka mengangkatku diudara dan memindahkan diriku kedepan makam Sayyidina Al-Faqih Ra,
kemudian mereka berkata kepadaku:”Kalau engkau hendak berziarah berilah salam terlebih dahulu kepada Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali Ra, kemudian setelah itu barulah engkau boleh berziarah kepada siapa yang engkau ingin ziarahi,hal ini mesti engkau dahulukan walupun kubur orang yang ingin engkau ziarahi jaraknya jauh dari makam Sayyidna Al-Faqih” kemudian aku bertanya kepada mereka :”Siapakah anda berdua ini?” Kami adalah Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar” kemudian merekapun menghilang.
Menurut para Ahli Arifin, menerangkan bahwa barang siapa yang ingin berziarah kepekuburan “Zanbal” sebelum berziarah kepada Sayyidina Al-Faqih maka batallah ziarahnya. Seorang Sholihin bercerita; ”Pada satu waktu aku sedang berada disatu tempat yang sangat menakutkan, akupun lalu bertawassul dan beristighatsah dengan beberapa orang Sholih yang
kukenal, kemudian akupun tertidur, dan akupun bermimpi ada yang berkata;”Engkau tidur ataupun bangun tidak akan menyelamatkanmu dari kami kecuali
Allah SWT, dan As-Syech Muhammad bin Ali Ra “akupun lalu mengadu kepada beliau, dan bertanya siapakah beliau ini? Lalu ada yang berkata;”Beliau adalah dimakamkan di makam ini” akupun lalu melihat dalam mimpiku makam Sayyidina Al-Faqih Ra”. As-Syech Muhammad bin Abu Bakar Ba’ibad Ra sering berziarah
kemakam Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra bilamana beliau lewat makam Sayyidina Al-Faqih Ra beliau langsung berziarah walaupun awalnya tidak bertujuan untuk berziarah misalnya hanya kebetulan lewat, keseringan berziarahnya As-syech Muhammad Ba’ibad Ra ke makam Sayyidina Al-Faqih menimbulkan kebingungan dikalangan pengikut beliau,karena
beliau sendiri melarang orang untuk berziarah kubur, sehingga ada yang bertanya kepada beliau;
”Kenapa anda selalu berziarah ke makam Sayyidina Al-Faqih? Padahal anda sendiri melarang orang untuk
berziarah kekuburan?” beliau menjawab;
”Bilamana aku melihat makam Sayyidina Al-Faqih, aku tidak kuasa untuk tidak menziarahinya” Didalam Kitab “Al-Anmuzaj Al-Latif” disebutkan bahwa telah berkata As- Syech Fadl bin Abdullah: ”Sayyidina As-Syech Al-Faqih
Muhammad bin Alwi bin As-Syech Ahmad bin Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali Ra beliau berkata:”Tempat duduk yang paling aku cintai didunia ini adalah duduk disisi makam kakekku Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam” Dan telah bercerita As-Syech Abdullah bin Alwi Ra:”Pada satu ketika aku berada disatu padang
rumput dan aku ditimpa demam yang sangat tingi sehingga hampir-hampir membuatku hilang kesadaran dan menimbulkan rasa sakit yang luar biasa akupun terpikirbahwa hal ini tidak bisa dibiarkan lebih lama lagiakupun lalu mendatangi makam Sayyidina Al-Faqih Ra,kemudian kututup mataku dan kupanjangkan tanganku keatas makam Sayyidina Al-Faqih Ra
kemudian aku bertawasshul”Aku meminta kepada Allah SWT dengan keberkahanmu agar dihilangkan-Nya
demam panas yang menimpaku” kemudian aku mendengar suara yang berkata kepadaku;”Kucukupi/
kupenuhi” lalu kutarik tanganku dan kubuka mataku,kemudian hilanglah demam dari diriku dan tidak pernah menimpaku lagi”.
4. Marahnya Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra
Telah diriwayatkan bahwa As-Syech Muhammad bin Ustman As-Syamhuniy Az-Zhofary mendatangi anak-anak Sayyidina Al-Faqih Ra setelah Sayyidina Al-Faqih Ra wafat, maka beliau disambut oleh Al-Habib Alwi Al-Ghuyur dan Al-Habib Abdurrahman menjemput As-Syech Muhammad dari luar kota, tatakala mereka telah bertemu berziarahlah mereka bersama-sama ke makam
para Wali dan beberapa orang Sholihin, kemudian Al-habib Abdurrahman berpesan kepada saudaranya yaitu;As-Syech Alwi Al-Ghuyur;”Wahai Alwi aku hendak pulang terlebih dahulu kerumah mempersiapkan jamuan untuk As-Syech Muhammad, sedangkan engkau tunggulah disini temani As-Syech Muhammad”
Kemudian Al-Habib Abdurrahman pulang kerumahnya, dan Al-Habib Alwi menemani As-Syech Muhammad ,setelah Al-Habib Abdurrahman pulang datanglah As-Syech Ibrahim bin Yahya Abu Fadhal Ra, dia berkata kepada Al-Habib Alwi Al-Ghuyur Ra;”Wahai Alwi aku ingin agar engkaubersedia untuk menyerahkan
kepadaku untuk menjamu As-Syech Muhammad”
Al-Habib Alwi Al-Ghuyur mengizinkan As-Syech Ibrahim
untuk membawa As-Syech Muhammad, kemudian pulanglah Al-Habib Alwi Al-Ghuyur, ketika Al-Habib Abdurrahman bertemu dengan Al-Habib Alwi sendirian tidak bersama As-Syech Muhmmad bertanyalah Al-Habib Abdurrahman kepada Al-Habib Alwi perihal As-Syech Muhammad, Al-Habib Alwi lalu memberitahukan bahwa As-Syech Muhammad dibawa oleh As-Syech Ibrahim, murkalah Al-Habib Abdurrahman, beliaupun langsung
menemui As-Syech Muhammad setelah beliau bertemu dengan As-Syech Muhammad beliaupun menumpahkan segala kekesalannya kepada As-Syech Muhammad
karena memenuhi undangan As-Syech Ibrahim dahulu, padahal beliau sudah mempersiapkan jamuan untuk As-Syech Muhammad dirumah beliau, As-Syech Muhammad mengahadapi kekesalan Al-Habib Abdurrahman
dengan senyuman dan penuh ketawadhu’an, maka setelah Al-Habib Abdurrahman melihat keluhuran Akhlak As-Syech Muhammad beliaupun menyesali diri beliau yang terlalu mengikuti hawa nafsu, beliaupun pergi ke
Masjid dan ber-I’tikaf dan beliau berniat tidak akan keluar dari Masjid sebelum As-Syech Muhammad memaafkan perlakuan beliau terhadap As-Syech Muhammad, tak
lama kemudian As-Syech Muhammad mendatangi Al-Habib Abdurrahman dengan muka ketakutan, dan berkata kepada beliau;”Wahai Abdurrahman urungkanlah
niatmu untuk meminta maaf kepadaku, karena aku takut
terhadap ayahmu (Sayyidina Al-Faqih) karena beliau tadi telah mendatangiku dalam keadaan marah kepadaku seperti singa dan ia berkata kepadaku;”Wahai Muhammad apakah engkau ingin menghinakan anakku dengan akhlakmu?” Diriwayatkan bahwa As-Syech Barakwah pergi keTarim bermaksud mengajak penduduk Tarim kepada Mazhab Thariqah yang dianutnya,
sesampainya di Tarim ia bermimpi didatangi oleh Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra, karena Imam Thariqah penduduk Tarim, adalah Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra.
5. Do’a Al-Faqih Al-Muqaddam Ra untuk keturunan beliau
Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra berdo’a untuk anak keturunan beliau dengan tiga permintaan beliau yang telah di Ijabah oleh Allah Jalla Wa’Ala, do’a Sayyidina Al-Faqih Ra untuk anak keturunannya tersebut adalah sebagai berikut : Imam Muhammad Bin Ali Al Faqihi Muqadam berdoa untuk para keturunannya agar selalu menempuh perjalanan yang baik, jiwanya tidak di kuasai oleh kedzaliman yang akan menghinakannya, serta tidak ada satupun dari anak cucunya yang meninggal kecuali dalam keadaan mastur ( Kewalian yang tersembunyi ).
* Tidak dikenal oleh masyarakat
umum (Mastur) dan tidaklah mereka
terjun dalam kemasyarkatan kecuali
dalam keadaan Faqir dan mencintai
kaum fakir miskin.
* Jangan sampai mereka dikuasai
oleh penguasa yang menzhalimi
mereka
* Tidak ada yang mati dalam
keadaan masih berhajat kepada
urusan Duniawinya, yaitu tidak
mempunyai hajat Duniawi yang bisa
memberikan Mudharat kepada
urusan agamanya.
3. Keadaan keluarga Sayyidina Al- Faqih Al-Muqaddam Ra sepeninggal beliau
Diriwayatkan bahwa As-Syech Al-Kabir Al-Arif billah Ta’ala Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Abu Ibad Ra datang ke Tarim sesudah wafatnya Sayyidina Al-Faqih Ra untuk menengok anak-anak
Sayyidina Al-Faqih Ra beserta isteri beliau “Ummul Fuqara’ ” Al-Hababah Zainab R.anha, tatkala As-Syech
Abdullah telah bertemu dengan Al-Hababah Zainab beliau berkata;”Bagaimana keadaan kalian sepeningal Sayyidina Al-Faqih Ra?” Al-Hababah Zainab R.anha
menjawab:”Keadaan kami sepeningal Sayyidina Al-Faqih tidak ada bedanya dengan sebelum beliau (Sayyidina Al-Faqih Ra) wafat, sedangkan keadaan Alwi bersama ayahnya sama sebagaimana pada waktu masa
hidupnya, Ilmu dan Rahasia langit bagi kami seperti kami melihat Bumi mendatangi kami pada waktu siang
dan malam, sedangkan Alwi datang kepadanya berselang sehari atau dua hari”

Jumaat, 12 Mei 2017

KEISTIMEWAAN MALAM NISHFU SYA'BAN

قال الشيخ عبد القادر الجيلاني :

Berkata as-syaikh abdul qodir aljaelani :

ليلة النصف من شعبان هي أفضل الليالي بعد ليلة القدر.

Malan nishfu sya'ban paling utamanya malam setelah lailatul qodr.

ذكر السبكي أن ليلة النصف من شعبان تكفر ذنوب سنة، وليلة الجمعة تكفر ذنوب الأسبوع، وليلة القدر تكفر ذنوب العمر.
( مكاشفة القلوب )

Imam subuki menyebutkan bahwa malam nishfu sya'ban melebur dosa setahun, malam jum'at melebur dosa seminggu dan lailatul qodr melebur dosa seumur hidup.
( mukasyafatul qulub )

وروى أبو هريرة -رضي الله عنه-، عن النبي -صلى الله عليه وسلم- أنه قال :

Abu huroiroh رضي الله عنه meriwayatkan dari Nabi صلى الله عليه وسلم bahwa beliau bersabda :

"جاءني جبريل عليه السلام ليلة النصف من شعبان وقال لي : يا محمد ارفع رأسك إلى السماء،

Datang kepadaku jibril عليه السلام pada malam nishfu sya'ban dan berkata : wahai Muhammad angkat kepalamu ke langit,

قال : قلت له : ما هذه الليلة؟ قال : هذه الليلة يفتح الله سبحانه فيها ثلاثمائة باب من أبواب الرحمة،

Nabi berkata : aku bertanya kepadanya : malam apa ini? Jibril menjawab : di malam ini Allah سبحانه وتعالى membuka tiga ratus pintu rahmat

 يغفر لجميع من لا يشرك به شيئا، إلا أن يكون ساحرا أو كاهنا أو مدمن خمر أو مصرا على الربا والزنا، فإن هؤلاء لا يغفر لهم حتى يتوبوا.

Mengampuni untuk semua orang yg tidak menyekutukan Allah dg sesuatupun, tukang sihir, dukun, peramal, pecandu minuman keras, narkoba atau selalu berbuat riba' dan zina, maka mereka tidak di ampuni sehingga mereka bertaubat

فلما كان ربع الليل نزل جبريل عليه السلام وقال : يا محمد ارفع رأسك، فرفع رأسه فإذا أبواب الجنة مفتوحة،

Ketika seperempat malam jibril عليه السلام  turun dan berkata : wahai Muhammad angkat kepalamu, lalu Nabi mengangkat kepala dan pintu-pintu surga di buka,

وعلى الباب الأول ملك ينادي : طوبي لمن ركع في هذه الليلة، وعلى الباب الثاني ملك ينادي: طوبي لمن سجد في هذه الليلة، وعلى الباب الثالث ملك ينادي : طوبي لمن دعا في هذه الليلة،

Pada pintu pertama malaikat menyeru : beruntung bagi orang yg ruku' di malam ini, pada pintu kedua malaikat menyeru : beruntung bagi orang yg sujud di malam ini, pada pintu ke tiga malaikat menyeru : beruntung bagi orang yg berdo'a di malam ini

وعلى الباب الرابع ملك ينادي : طوبي للذاكرين في هذه الليلة، وعلى الباب الخامس ملك ينادي : طوبي لمن بكى من خشية الله في هذه الليلة، وعلى الباب السادس ملك ينادي : طوبي للمسلمين في هذه الليلة،

Pada pintu ke empat malaikat menyeru : beruntung bagi orang-orang yg berdzikir di malam ini, pada pintu ke lima malaikat menyeru :  beruntung orang yg menangis karna takut kepada Allah  di malam ini, pada pintu ke enam malaikat menyeru : beruntung bagi ummat islam di malam ini

وعلى الباب السابع ملك ينادي : هل من سائل فيعطي سؤله؟ وعلى الباب الثامن ملك ينادي : هل من مستغفر فيغفر له؟ فقلت : يا جبريل إلى متى تكون هذه الأبواب مفتوحة؟ قال : إلى طلوع الفجر من أول الليل، ثم قال : لله تعالى فيها عتقاء من النار بعدد شعر غنم كلب".

Pada pintu ke tujuh malaikat menyeru : apakah ada yg meminta maka di berikan permintaannya?  Dan pada pintu ke delapan malaikat menyeru : apakah ada yg meminta ampunan maka di ampuni untuknya? Lalu Nabi berkata : wahai jibril sampai kapan pintu-pintu ini di buka? Jibril menjawab : sampai terbitnya fajar dari awal malam, kemudian jibril berkata : Allah سبحانه وتعالى di malam ini membebaskan hamba-hambanya dari neraka sebanyak bulu domba dari kaum bani kalb.

AMALAN AGAR REZEKI LANCAR



لمن عسر عليه رز

وصفتها يجب أن تكتب في ليالي خاصة وهي ليالي القدر وليلة عرفة وليلة النصف من شعبان، وفي غير هذه اليالي لايمكن.


إِنَّ هَٰذَا لَرِزْقُنَا مَا لَهُ مِن نَّفَادٍ

اكتبوها واحملوها معكم في محفظة أموالكم فهي جدا مجربة

Bagi siapa saja yang merasa kesulitan dengan rizqi, baik rizqi harta benda atau rizqi maknawi, berupa taufik-Nya,kefahaman ataupun ilmu.. Maka hendaknya dia menulis ayat 54 dari surat shod

Menulisnya di malam-malam yang khusus yaitu: malam lailatul qodar, malam hari arofah (9 dzulhijjah) & malam separuh dari bulan syakban.

Sedangkan diselain malam-malam diatas tidak bisa (jadi harus ditulis dimalam-malam yg telah disebutkan diatas).

Ini ayat yang ditulis:

إِنَّ هَٰذَا لَرِزْقُنَا مَا لَهُ مِن نَّفَادٍ

Tulislah & selalu bawalah bersama-mu, diletakkan di tas atau tempat menyimpan harta/uang-mu.

Insya ALLOH mujarab.
قه سواء أكان الرزق ماديا او معنويا توفيق، فهم، علما، فليكتب اية 54  من سورة ص.
KURMA

MENGAPA KURMA DI BENCI JIN DAN SETAN DAN MENGAPA NABI SAW.  MEMAKANNYA DALAM HITUNGAN GANJIL???

INI JAWABAN NYA..!!!

    Sepercik Hikmah

Mengapa kurma dibenci jin dan setan?

Serta mengapa Nabi SAW memerintahkan kita, mengonsumsi dalam hitungan ganjil 3. 5. 7 dan dikonsumsi makan pada pagi hari?

Dan yang paling baik makan  tujuh kurma. Baik dari segi Agama dan ilmiah penjelasan atas pertanyaan ini yaitu ternyata kur ma membuahkan daya perlindungan tubuh manusia  dan membuat perisai pelindung untuk tubuh manusia.

Amer bin Saad dari ayahnya – berkata : Rasulullah, sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
Lakukanlah ihtiar perlindungan dari sihir dengan makan 7 kurma

Penelitian sudah tunjukkan kalau buah kurma miliki manfaat utama.

1.PERTAMA
Kurangi tingkat kolesterol dalam darah dan mencegah aterosklerosis.

2.KEDUA
Mencegah kanker usus besar serta mencegah penyakit, wasir dan kurangi bentuk batu kepahitan dan memfasilitasi tahap kehamilan serta persalinan, lantaran mengandung serat serta makanan yang baik pencernaan dan gula.

 3-KETIGA
Mencegah kerusakan gigi karena mengandung fluor.

4.KEEMPAT
 Mencegah racun karena mengandung natrium, kalium dan vitamin c.

5.KELIMA
Penyembuhan anemia karena mengandung zat besi, tembaga, vitamin B-2.

6.KEENAM
Obat untuk rakhitis dan osteomalacia karena mengandung  kalsium, fosfor, vitamin A

7.KETUJUH
Penyembuhan untuk anoreksia  dan kurangnya konsentrasi karena me ngandung kalium.

8.KEDELAPAN
 Untuk pengobatan umum kekurangan dan jantung berdebar karena mengandung magnesium, tembaga

9.KESEMBILAN
Obat kanker rematik dan otak karena mengandung boron.

10.KESEPULUH
Anti-kanker karena mengandung  selenium sudah dilihat kalau warga tidak paham kanker oasis.

11.KESEBELAS
Pengobatan disfungsi ereksi karena mengandung boron, vitamin A.

12.KEDUABELAS
Perawatan untuk kulit kering dan penyakit kornea kering serta kebutaan malam karena mengandung vitamin A.

13.KETIGABELAS
Obat untuk penyakit saluran pencernaan saraf karena mengandung vitamin B1.

14.KEEMPATBELAS
Perawatan untuk rambut rontok dan stres mata serta peradangan pada selaput lendir rongga mulut serta radang bibir karena mengandung vitamin B-2.

15.KELIMABELAS Perawatan kulit inflamasi karena mengandung vitamin niacin.

16.KEENAMBELAS
Obat untuk penyakit kudis, melemahnya umum tubuh dan jantung berdebar, sesak napas dan kontraksi pembuluh darah serta timbulnya bintik-bintik merah pada kulit serta kekurangan dalam tulang dan gigi, karena mengandung Vitamin C, atau asam askorbat 2.

17.KETUJUHBELAS Pengobatan keasaman di perut karena mengandung klorin, natrium dan kalium.

18.KEDELAPANBELAS Pengobatan penyakit gusi dan kekurangan pembuluh darah kapiler, kekurangan otot dan tulang riskan karena mengandung vitamin c.

SEBARLUASKAN KEPADA KERABAT DAN SAHABAT. SEMOGA  BERMANFAAT

Jumaat, 7 April 2017



PANGKAL KEMAKSIATAN

تنبيه الغافلين للسمرقندي
وَأَصْلُ الْمَعْصِيَةِ ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ: الْكِبْرُ، وَالْحِرْصُ، وَالْحَسَدُ، فَأَمَّا الْكِبْرُ فَقَدْ ظَهَرَ مِنْ إِبْلِيسَ حَيْثُ أُمِرَ بِالسُّجُودِ، فَاسْتَكْبَرَ حَتَّى صَارَ مَلْعُونًا، وَأَمَّا الْحِرْصُ فَقَدْ ظَهَرَ عَلَى آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ، حَيْثُ تَنَاوَلَ مِنَ الشَّجَرَةِ لِكَيْ يَخْلُدَ فِي الْجَنَّةِ، فَأُخْرِجَ مِنْهَا، وَأَمَّا الْحَسَدُ فَقَدْ ظَهَرَ عَلَى ابْنِ آدَمَ قَابِيلَ، فَقَتَلَ أَخَاهُ حَتَّى أُدْخِلَ النَّارَ.

Asal maksiat dari 3 hal :
1. Sombong
2. Tamak
3. Hasud
Adapun kesombongan, telah ditampakkan oleh iblis ketika diperintahkan untuk sujud kepada Nabi Adam namun dia menyombongkan dirinya sehingga menjadi makhluk yang terlaknat.

Adapun ketamakan telah ditampakkan oleh Nabi Adam as ketika memetik buah yang dilarang dg tujuan ingin kekal di surga sehingga dia dikeluarkan.

Adapun sifat hasud telah ditampakkan oleh anak nabi Adam yg bernama Qobil ketika membunuh saudaranya sehingga dia dimasukkan kedalam api neraka.

# kewajiban bagi setiap manusia adalah menghindari kemaksiatan dan bersungguh-sungguh dan ikhlas dalam ketaatannya kepada Allah SWT.




KAROMAH SYEKH ABU BAKAR BIN SALIM

1. Binatang ternak yang hilang
Seorang Lelaki Badui yang kehilangan binatang ternaknya dan ia telah mencari kesana kemari, namun tidak ia ketemukan juga. Kemudian ia teringat akan perkataan salah seorang pembantu dari Syekh Abu bakar bin


Salim Ra, bahwa Syekh Abu Bakar bin Salim dapat mengetahui dimanakah binatang ternaknya, ia pun menemui syekh dan memberitahukan perkataan pembantu beliau itu sebagai alasan yang menyebabkan dirinya datang dan bertanya kepada Syekh Abu Bakar bin salim Ra. Lalu Syekh memanggil pembantunya dan beliau menanyakan apakah benar perkataan si Badui tadi dan apa sebabnya ?. pembantu beliau menjawab : “Sesungguhnya aku pernah mendengar anda berkata bahwa dunia ini dalam pandangan mata anda bagaikan sebuah piring belaka.”Syekh Abu Bakar bin Salim kemudian menegur pembantunya tersebut dan melarang jangan berbicara seperti itu lagi, karena beliau tidak ingin dianggap sombong. Namun beliau tetap menolong si Badui tersebut dengan memberitahukan dimana binatang
ternaknya. Lalu si Badui tersebut pergi ke tempat yang ditunjuk oleh Syekh dan menemukan binatang tersebut persis seperti yang diberitahukan beliau.

2. Ramalan Syekh Abu Bakar bin Salim Ra.
Syekh Abu Bakar bin Salim pernah memberikan khabar kepada Umar bin Abdullah Ja’far Al-Katsiry, sewaktu Umar bin Abdullah berada di dalam penjara. Syekh Abu Bakar bin Salim Ra mengabarkan bahwa Umar bin Abdullah akan segera keluar dari penjara dan akan menjadi penguasa di Hadrhamaut. Tak lama kemudian Umar bin Abdullah keluar dari penjara dan menjadi penguasa Hadrhamaut.

3. Isyarat Syekh Abu Bakar bin Salim Ra.
Diriwayatkan dari Syekh Sholeh As-Salik Ahmad bin Ali Bajabir Rahimahullah, beliau berkata :“ Tatkala sudah termasyhurnya Syekh Abu Bakar bin Salim Ra, aku merindukan untuk berziarah kepada beliau, dan aku menginginkan mendapatkan isyarah lebih dahulu sebelum aku berziarah. Dan dikala tengah malam tiba, ada cahaya yang memancar dari atas atap rumahku, lalu cahaya tersebut memenuhi seluruh rumahku, kemudian tiba-tiba hadirlah Syekh Abu Bakar bin salim Ra turun dan kemudian duduk disampingku, berbicara kepada diriku dan beliau memberikan isyarat kepadaku, maka setelah itu akupun berziarah kepada beliau.”

4. Kesembuhan dengan keberkahan Syekh Abu Bakar bin Salim Ra.
Ada seorang Sholihin yang bercerita : “ Sekali waktu aku sakit keras, dan pada saat menjelang malam aku merasakan kepayahan, lalu aku bertawassul kepada Syekh Abu Bakar bin Salim Ra. Tak lama kemudian aku tertidur dan bermimpi jumpa beliau, ku lihat diri beliau di atas kendaraan, kedua kakinya sampai tujuh lapis bumi dan kepalanya menembus sampai ke langit dan beliau mengucapkan dua bait syair
“Kaum yang sudah sampai di Hadhirah Tuhan mereka dan telah nyataBagi mereka keindahan akan hal tersebut dengan senyata-nyatanya “Dan tatkala mereka dipanggil olehnya kepada jalan kesuksesan,Mereka pun menyahuti dengan penuh keta’atan : “Kami menyahutiPanggilanmu wahai yang memanggil kami dengan segala keindahan( amal dan ganjaran )”
Di dalam mimpiku, beliau mengisyaratkan bahwa aku berhasil mendapatkan kesembuhan dan kesehatan dari sakitku, dan ketika aku bangun di pagi harinya, ternyata aku telah sehat dan penyakitku telah hilang dengan keberkahan Syekh Abu Bakar bin Salim.
Diriwayatkan dari Syekh Al Wali Abiyd bin Abdul Malik bin Nafi As- Syibamy:
“Sekali waktu aku ditimpa suatu penyakit sedangkan aku berada di negeriku, di Syibam, maka aku lalu bertawassul kepada Syekh Abu Bakar bin Salim Ra, lalu beliau tiba-tiba hadir dan masuk ke rumahku lalu memdo’akan diriku, kemudian aku pun sehat dengan keberkahan beliau.”

5. Mangkuk kopi yang dikirim Syekh Abu Bakar bin Salim Ra.
Diriwayatkan bahwa ada rombongan yang berziarah kepada beliau yang berasal dari Syam, dan salah satu dari mereka bercerita :
“Tatkala aku sedang duduk bersama Syekh Abu Bakar bin Salim Ra, terlintas dalam benakku, aku ingin minta do’a beliau, agar istriku yang berada di Syam tidak marah kepadaku dan ridho atas diriku, karena aku telah lama meninggalkan dirinya karena lamanya perjalananku.
maka tiba-tiba Syekh Abu Bakar bin Salim berbicara dan memberitahukan kepadaku, padahal aku belum sempat berkata sepatah katapun, beliau berkata ; “keluargamu akan ridho atas dirimu ketika engkau pulang. Sekiranya aku mau, sungguh aku akan hadirkan keluargamu pada saat ini juga di majlis ini, tetapi cukup (sudah) kuberikan kopi didalam mangkuk ini kepada mereka.”

Pada saat itu ku lihat di tangan beliau ada mangkuk yang berisi kopi, kemudian ketika aku pulang ke negeriku dan bertemu keluargaku, akupun terheran-heran karena ternyata mereka semuanya merasa senang dengan kepulanganku dan mereka tidak marah sama sekali kepadaku; persis seperti yang dikatakan oleh Syech Abu Bakar bin Salim. Lalu karena penasaran dan masih merasa takjub, akupun bertanya kepada mereka adakah orang yang telah datang kepada mereka? Dengan memakai pakaian seperti yang dipakai Syekh Abu Bakar bin Salim Ra saat itu, serta berciri-ciri seperti beliau, juga dengan membawa mangkuk yang berisi kopi, pada hari yang dikatakan oleh Syekh Abu Bakar bin Salim Ra? Mereka pun berkata :
“Benar ada seorang Syekh yang telah datang kepada kami dengan membawa semangkuk kopi dan kamipun meminumnya”.

6. Kasyafnya Syekh Abu Bakar bin Salim Ra.
Diriwayatkan bahwa ada serombongan jama’ah yang datang kepada beliau untuk berrziarah kepada beliau. Tatkala ditengah jalan mereka berbincang satu sama lain : “sungguh kita ingin mengetahui kasyafnya Syekh Abu Bakar bin Salim Ra, kita minta saja didalam hati masing-masing, sekarang, agar dijamu beliau dengan makanan laut dan kurma”
Padahal saat itu bukanlah musimnya, kemudian setelah melalui perjalanan panjang, merekapun bertemu dengan Syekh Abu Bakar bin Salim, dan dikala waktu sarapah tiba. Syekh Abu Bakar bin Salim berkata kepada pembantunya :“pergilah engkau dengan rombongan ke rumah si Fulan, sesungguhnya di rumahnya ada makanan untuk sarapan mereka”
Kemudian si pembantu tersebut pergi mengantarkan rombongan tadi menuju kerumah yang dimaksud, setibanya mereka disana, kagetlah mereka karena semuaMakanan yang mereka minta dalam hati sewaktu dalam perjalanan tadi sudah terhidang lengkap. Setelah mereka selesai makan dan telah pulang, sang empunya rumah datang dan ia tidak mendapati apapun dirumahnya ataupun juga bekas makanan tersebut.

7. Penderita Lepra yang sembuh dengan keberkahan Syekh Abu Bakar bin Salim.
Diriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki di Maroko yang ditimpa lepra disekujur tubuhnya, dan ia mempunyai saudara laki-laki yang sudah berikhtiar kesana-kemari, namun tiada hasil dan mereka berdua adalah orang-orang kaya. Saudaranya sudah memanggil seluruh tabib yang terkenal di masa itu dan sudah meminta do’a kepada para wali yang termasyhur di masa itu. Tetapi penyakit saudaranya tidak kunjung sembuh. Sampai akhirnya ada seorang ahli batin yang berkata kepada mereka :“Cobalah kalian meminta keberkahan dari Syekh Abu Bakar bin Salim Ra di kota I’nat, Yaman agar saudaramu mendapat kesembuhan.”
Kemudian saudaranya ini bermusafir pada saat itu juga ke kota I’nat. ketika telah sampai, iapun berziarah dan berjumpa dengan Syekh Abu Bakar bin Salim Ra. Sebelum sempat ia berbicara; Syekh Abu Bakar bin Salim telah berkata lebih dulu, dengan jalan kasyaf, beliau berkata :“Aku telah terima ziarahmu dan keinginan dirimu untuk menyembuhkan saudaramu yang sedang sakit di Maroko. Nanti pada waktu hari Jum’at, pada waktu khotib berdiri di mimbar, masuklah engkau ke masjid kami, lalu pergilah ke telaga yang ada di masjid kami, basahilah sekujur badanmu dengan air telaga tersebut, apabila tubuhmu telah kering dari air, ulangi lagi sebanyak 3x berturut – turut”.
Lelaki tersebut melakukan apa yang diperintahkan oleh Syekh Abu Bakar bin Salim Ra. Kemudian pada waktu yang telah ditentukan yaitu hari jum’at, iapun masuk ke telaga, lalu berendam kedalamnya berturut-turut selama 3x. kemudian setelah itu, ia sholat Jum’at, pada waktu ia menunaikan sholat Jum’at ada seorang laki-laki disebelahnya berkata kepada dirinya bahwa ibundanya pada saat itu telah wafat di Maroko.
Setelah ia menunaikan ziarah dan telah selesai seluruh maksud tujuannya, ia kemudian pamit kepada Syekh Abu Bakar bin Salim Ra dan segera pulang ke negerinya, Maroko.

Ketika telah sampai dirumahnya, ia menemui saudaranya yang sakit, ternyata saudaranya tersebut pada saat itu telah sembuh, dan badannya telah bersih dari penyakit kusta. Lalu ia pun bertanya kepada saudaranya, bagaimana sampai dirinya bisa sembuh, kemudian saudaranya bercerita :“Pada hari jum’at ( pada saat bersamaan saudaranya bertemu dengan Syekh Abu Bakar bin Salim Ra di I’nat dan menunaikan perintah beliau ) datang kepadaku seorang lelaki ( yang sifatnya seperti Syekh Abu Bakar bin Salim Ra ) membasahi diriku, sampai 3x berturut-turut, setelah itu akupun langsung sembuh, dan laki-laki tersebut hilang dari hadapanku”.
Dan memang benar ibunda mereka telah wafat pada saat itu, tetapi ternyata dengan madad keberkahan Syekh Abu Bakar bin Salim Ra, saudaranya yang sakit lepra tersebut mendapatkan kesembuhan total

8. Jari tangan Syekh Abu Bakar bin Salim ra bersinar.
Diriwayatkan bahwasanya istri beliau pada suatu malam meminta lampu kepada beliau, maka beliau mengeluarkan jari-jari beliau dan pada saat itu jari-jari tangan beliau bersinar seperti lampu.

9. Syekh Abu Bakar bin Salim Ra Wali Shohibul waqt.
Diriwayatkan dari sebagian kaum Sadah Ba’alawi, ia bercerita :“Satu ketika aku bermimpi seolah-olah aku bermaksud pergi haji ke Makkah Musyarofah. Tatkala aku memasuki Masjidil Haram, aku tidak mendapati Baitullah sebagaimana mestinya berada di tempatnya. Akupun lalu merasa bingung. Pada saat itu aku melihat ada seorang laki-laki dari pada Bani Alawi, akupun lalu bertanya kepadanya : “Dimanakah Ka’bah ?.
Ia menjawab :”Jalanlah bersamaku, aku akan menunjukkan kepada engkau Ka’bah”.Maka aku pun berjalan disisinya. Sampai akhirnya kami masuk ke kota ‘Inat. Di sana aku melihat satu kubah yang sangat besar di sisi rumah Syekh Abu Bakar bin Salim Ra, dan aku mendengar suara beliau didalamnya. Laki-laki tersebut berkata kepadaku : “Inilah rumah yang diagungkan”, dan kulihat Baitullah ada di sisi rumah Syekh Abu Bakar bin Salim Ra”.
Kemudian akupun bangun dari tidurku pada saat itu juga. Lalu setelah aku memikirkan mimpiku tersebut dan mengenai hal Syekh Abu Bakar bin Salim Ra yang kulihat dalam mimpiku, maka tahulah aku bahwasanya Syekh Abu Bakar bin Salim Ra adalah Wali Shohibul waqt.”

10. Rombongan Musafir yang diselamatkan Allah swt dengan keberkahan Syekh Abu Bakar bin Salim Ra.
Diriwayatkan oleh Faqih Muhammad bin Sirojuddin Jamal Rohimahullah, beliau bercerita :“Sesungguhnya aku bermusafir ke negeri India pada bulan Asyura tahun 973 H dengan naik kapal, sampai akhirnya pada satu tempat yang dikenal dengan nama Khuril Gari. Pada saat kapal kami mengalami kerusakan, keadaan saat itu sangatlah gelap dan hujan turun dengan lebatnya. Para penumpangnya merasa kebingungan dan ketakutan sehingga mereka menangisi keadaan mereka. Aku sendiri berdo’a kepada Allah swt dan bertawassul dengan para waliyullah, lalu aku beristighotsah dan hatiku bertawajuh kepada Syekh Abu Bakar bin Salim Ra. Setelah aku bertawasul kepada Syekh Abu Bakar bin Salim Ra, aku mendengar suara beliau seolah-olah dekat denganku. Kemudian aku bangun dan memberitahukan kepada para penumpang yang lain bahwasanya telah ada isyarah dan bisyarah dalam keadaan yang sangat sulit saat itu. Dan ternyata kamipun selamat oleh bantuan Allah swt dengan kemuliaan Syekh Abu
Bakar bin Salim ra.

11. Panjang umur dengan keberkahan Syekh Abu Bakar bin Salim Ra.
Dari Faqih Muhammad juga diriwayatkan, beliau bercerita :“Sekali waktu diriku mengalami sakit yang sangat parah. Hal ini terjadi pada bulan Ramadhan tahun 988 H, pada saat itu keadaanku sangat payah, sehingga tak ubahnya sedang mendekati ajal dan dalam keadaan sakratul maut. Pada saat itu seolah-olah hadir sosok ghaib yang bisa kudengar dan dapat kulihat, kemudian tiba-tiba aku mendapati surat dari Syekh Abu Bakar bin salim Ra. Pada surat tersebut, ketika kubaca tertulis sebagai berikut :“Sesungguhnya kami mengetahui akan keadaanmu, engkau sedang sakit sedemikian rupa. Tidak usahlah engkau cemaskan penyakitmu, insya Allah engkau akan sehat dan terlepas dari pada maut dan kembali kepada kami. Karena kehidupannmu dibutuhkan untuk kemaslahatan zhohir maupun batin bagi kaum muslimin. Dan janganlah sekali-kali engkau merasa cemas didalam hatimu terhadap penyakitmu ini. Sesungguhnya aku telah memberikan syafa’at bagimu dengan keselamatan dan panjang
umur.”Maka tatkala aku telah selesai melihat surat yang sampai kepadaku secara ghaib dari Syekh Abu Bakar bin Salim Ra, tanpa diduga aku sembuh pada saat itu juga dengan izin Allah swt dengan keberkahan daripada Syekh Abu Bakar bin Salim Ra.

12. Makanan yang dihabiskan pembantu Syekh abu Bakar bin Salim Ra.
Diriwayatkan, tatkala beliau hendak mengadakan perayaan dalam rangka khitan dari sebagian anak-anak beliau. Beliaupun mengadakan walimah yang besar dan mengundang penduduk Tarim dan sekitarnya. Pada perayaan tersebut, Syekh Abu Bakar bin Salim Ra mempersiapkan jamuan yang banyak bagi yang hadir, tetapi ternyata entah kenapa para undangan makan hidangan tersebut sedikit sekali. Hal ini menyinggung perasaan Syekh Abu Bakar bin Salim Ra, beliau lalu berkata kepada pembantunya, yaitu audh bin Syekh Ali Bamazru’ ( penduduk wasithoh ), beliau berkata :
“berdirilah engkau dan bersihkan hidangan ini, dan makan olehmu sendiri.”
Sedangkan jumlah hidangan pada waktu itu adalah sebanyak 60 hidangan. Pembantu beliau makan setiaphidangan tersebut satu persatu tanpa mendapatkan Mudharat sedikitpun daripada tindakannya tersebut.
Dan tatkala orang-orang yang telah diundang Syekh abu Bakar bin Salim Ra itu hendak pulang menuju Tarim, dipertengahan jalan mereka tiba-tiba ditimpa rasa lapar yang sangat luar biasa, sehingga merekapun mengutus sebagian dari pada mereka ke kota mishtoh untuk meminta kurma, tetapi mereka tidak mendapatkan kurma sedikitpun; setelah itu barulah mereka menyadari bahwa rasa lapar yang mereka derita, karena tidak menghabiskan jamuan Syekh Abu Bakar bin salim ra, atau dengan kata lain mereka tidak menghargai perjamuan yang telah dihidangkan Syekh Abu Bakar bin Salim Ra, maka mereka pun lalu meminta maaf kepada beliau.

13. Dinding Masjid yang berjalan dengan perintah Syekh Abu Bakar bin Salim Ra.
Diriwayatkan dari Al-Mualim Al-Fadhil Ahmad bin Abdurrahman Bawazir, ia berkata : Ada satu kisah yang diriwayatkan dari Ar-Rojul As-Sholeh Al-Mualim Al-Walid Abdurrahman binMuhammad bin Abdullah Bawazir yang ia terima riwayatnya dari beberapa orang Arifin, ia berkata :“Sesungguhnya Syekh Abu Bakar bin Salim Ra, tatkala sedang membangun masjid beliau yang masyhur di kota ‘Inat, beliau berkata kepada seorang pekerja bangunannya yaitu ibnu Ali sambil menunjuk satu dinding yang baru didirikan, beliau berkata : “Dinding yang didirikan ini tidak akan dimakmurkan oleh kaum muslimin, kami menginginkannya agar dibuat sedikit maju.”
Ibnu Ali menjawab :“Ya Sayyidi yang anda inginkan adalah kemaslahatan, tetapi bagaimanakah kami akan merubahnya lagi, karena dinding ini sudah terlanjur didirikan di tempat ini.”
Pada saat itu Syekh abu Bakar bin Salim Ra memegang tongkat, beliau lalu memukul dinding tersebut dengan tongkat beliau, maka dengan seizin Allah swt dinding tersebut berpindah tempat dari tempatnya semula sampai kepada tempat yang diinginkan oleh Syekh Abu Bakar bin Salim Ra.

14. Darwisy yang mendapatkan futuh dengan barokah Syekh Abu Bakar bin Salim Ra.
Diriwayatkan dari Sayyidina Al-Imam Al-qutb Al-habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, bahwasanya beliau bercerita :“Sesungguhnya ada seorang Darwisy yang telah datang kepada Sayyid As-Syekh Abdullah bin Syekh Al Aydrus dan berkhidmat kepada beliau sampai beberapa waktu.”Pada suatu ketika, si Darwisy ini berkata kepada pembantu As-Syekh Abdullah bin Syekh Al-aydrus :
“Katakan kepada tuanmu, sesungguhnya aku menginginkan daripada As-syekh Abdullah sabun.”
Maka pembantu inipun menyampaikan pesan si Darwisy itu kepada beliau. Kemudian As-Syekh Abdullah Al-aydrus memberikan sabun untuk mencuci baju. Maka tatkala pembantu beliau memberikan sabun ini kepada Darwisy tersebut, ia terbelalak dan berkata :“Sesungguhnya bukanlah sabun seperti ini yang aku inginkan, tetapi yang aku inginkan adalah sabun untuk hatiku”
Kemudian Syekh abdullahbun Syekh Al-aydrus berkata kepada Darwisy ini :“kami tidak mempunyai sabun yang engkau inginkan, kalau sekiranya engkau menginginkan sabun untuk hatimu; pergilah engkau kepada Syekh Abu Bakar bin Salim Ra,.”
Kemudian keluarlah si Darwisy ini untuk pergi menemui Syekh Abu Bakar bin Salim Ra dan berkhidmat kepada beliau. Tak lama kemudian iapun mendapatkan keinginannya dan mendapatkan Futuh daripada Allah swt dengan barokah Syekh Abu Bakar bin Salim Ra.

15. Tanah Dhorikh ( Makam ) Syekh Abu Bakar bin Salim Ra mujarab unuk obat segala macam penyakit.
Di Turbah Syekh Abu Bakar bin Salim Ra terdapat pasir atau tanah (katsib) yang sangat termasyhur kemujarabannya bagi orang-orang yang menginginkan keberkahan. Salah satu yang termasyhur adalah bahwa tanah ini bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit, oleh karena jugalah Syekh Abu Bakar bin Salim Ra mendapatkan gelar “ Maula Katsib “.Diceritakan oleh Sayyid Abdul qodir bin Abdullah bin Umar bin Syekh Abu Bakar bin Salim Ra, beliau berkata :
“Adalah aku berziarah kepada Syekh Abu Bakar bin Salim Ra satu ketika bersama guruku Guruku Sayyid Ahmad al-Junaidi banal-Imam Ahmad Al-Junaid. Kami berziarah ke ‘Inat dan berziarah kepada Syekh Abu Bakar bin Salim Ra. Sesudah berziarah, beliau menginginkan untuk mengambil pasir di makam tersebut untuk menyembuhkan luka yang diderita beliau di salah satu kaki beliau. Dan beliau meminta kepada salah seorang keturunan Syekh Abu Bakar bin Salim Ra agar meletakkan pasir tersebut atas luka beliau, dan luka tersebut sembuh dengan seizin Allah swt”.
Dan diceritakan juga dari Syekh Abdullah Qadri Basya’ib, ia bercerita :
“Sesungguhnya aku selalu membawa tanah dari makam Syekh Abu Bakar bin Salim Ra, tatkala aku bermusafir menuju ke Makkah, aku membawa tanah tersebut, dan selama perjalanan aku tidak mendapatkan musibah apapun juga. Tatkala kami telah sampai di Makkah, maka kami mencengar khabar bahwa kapal yang kami tumpangi tersebut pecah dan tenggelam. Akupun bersyukur kepada Allah swt. Tanah ini juga selalu aku jaga dan bawa kemanapun aku pergi; juga selama aku bermukim di Al-Haramain selam 9 tahun. Sampai akhirnya akupun keluar dari makkah. Dan selama itu, aku selalu membawa tanah tersebut dan tidak pernah sekalipun aku di timpa kesusahan.

16. Berpindahnya maqom kewilayahan Syekh Ma’ruf Ba jamal kepada Syekh Abu Bakar bin Salim Ra.
Diceritakan dalam kitab Insussalikin Ila Maqomatil Wasilin yang ditulis oleh Sayyid Abdullah bin Ahmad Baharun. Di dalam kitab tersebut diceritakan kisah dari Umar bin Ali Bamansur, ia bercerita :“Telah memberi kabar kepada kami seorang daripada kaum Arifin,ia bercerita : tatkala wafat seorang wali besar yaitu Syekh Ma’ruf Ba Jamal di Budhoh salah satu daerah di Dau’an. Kaum sholihin melihat dengan ‘Ainul Bashiroh mereka, ada sungai yang mengalir dari Budhoh, sungai tersebut di penuhi cahaya yang cemerlang. Sungai itu mengalir sampai ke Syibam dan memenuhi kota Sybam dengan cahaya, sampai ke Ghurfah dan terus ke Tarim sampai akhirnya ke kota ‘Inat dan sungai tersebut berkumpul di hadirat Syekh Abu Bakar bin Salim Ra. Maka tahulah seluruh murid Al-Wali Syekh Ma,ruf Ba jamal bahwa maqom atau kewalian daripada Syekh Ma’ruf Ba Jamal telah berpindah dan diwarisi oleh Syekh Abu Bakar bin Salim Ra. Kemudian murid-murid Syekh Ma’ruf Ba jamal
menemui beliau. Sebelum mereka ingin berkata-kata, semuanya di kasyaf oleh Syekh Abu Bakar bin Salim. Lalu Syekh Abu Bakar bin Salim Ra mengajari mereka dan memberitahukan kepada mereka mengenai beberapa hal ghaib. Kemudian merekapun pulang ke Tarim, termasuk di antara rombongan mereka yaitu Syekh umar Baraja As-Shonubari. Dan mereka berkumpul bersama Syekh Husain bin Faqih Abdullah Balhaj Bafadhol. Dan merekapun menceritakan daripada keagungan Syekh Abu Bakar bin salim Ra.”

17. Kekasyafan Syekh Abu Bakar bin Salim Ra dan Ziarah yang qobul.
Berkata Al-Faqih Muhammad bin Abdurrahman Sirojuddin Rohimahullah : Daripada sebagian kekeramatan Syekh Abu Bakar bin Salim Ra, sebagaimana yang telah dikabarkan kepadaku dari ayahandaku bahsanya ia bercerita :“Sungguh telah terbayang atas kami banyak manusia yang berziarah kepada Nabi Hud as. Dan tatkala itu adalah permulaan atau bidayah akan zuhurnya Syekh Abu Bakar bin Salim Ra. Dan sesungguhnya aku sangat menginginkan berziarah bersama mereka didalam jama’ah mereka, rombongan yang agung, tetapi aku merasa segan dan terlintas dalam hatiku sekiranya aku menginginkan untuk menulis surat kepada Syekh Abu Bakar bin Salim Ra dan meminta kepada beliau mendo’akan kami agar mendapat fadhilah daripada ziarah tersebut. Tetapi akupun merasa sangat segan untuk menulis surat tersebut dan akupun tidak pernah memberitahu satu orangpun atas keinginanmu itu. Dan tatkala aku pulang setelah berziarah kepada Nabi Hud as, tiba-tiba aku aku mendapatkan surat dari
Syekh Abu Bakar bin Salim Ra yang isinya adalah sebagai berikut :“Sesungguhnya kami menghadirkan ruh kalian didalam acara ziarah kepada Nabi Allah Hud as, dan kami mendoa’kan kalian, dan kamipun mendoa’kan agar kalian sekeluarga mendapatkan fadhilah dan keutamaan pada ziarah tersebut.”Setelah aku membaca surat dari pada Syekh Abu Bakar bin Salim tersebut, akupun mengucapkan puji dan syukur kepada Allah swt. Dan bertambah ta’zhimlah diriku kepada beliau.”

18. Syekh Abu Bakar bin Salim Ra dipilih oleh Syekh Faris Ba Qais.
Ketika Syekh Faris, seorang wali besar yang berkunjung ke Tarim dan hendak melanjutkan perjalanannya untuk berziarah ke makam Nabi Allah Hud as, beliau meminta seseorang untuk mengantar beliau beserta rombongan, lalu beliau memilih diantara penduduk Tarim yang pantas untuk mengantar beliau berziarah, tatkala Syekh Faris melihat Syekh Abu Bakar bin Salim Ra yang kala itu masih berusia 4 ( empat ) tahun; beliaupun menunjuk Syekh Abu Bakar bin Salim Ra untuk mengantar beliau, dan Syekh Faris tidak mau digantikan oleh orang lain; lalu pergilah Syekh Abu Bakar bin salim Ra bersama rombongan Syekh Faris dengan digendong pembantu beliau yang bernama Baqahawil.

19. Berubahnya warna rambut Syekh Abu Bakar bin Salim Ra.
Diriwayatkan oleh Syekh Abdullah bin Zen : “Sekali waktu kami sedang berada di majlis Syekh Abu Bakar bin Salim Ra, lalu terlintaslah di dalam hatiku keraguan kepada beliau, tiba-tiba pada saat itu juga dalam Hal-nya warna ( kulit dan baju ) Syekh Abu Bakar bin Salim Ra berubah-rubah, dan rambut beliau juga sesaat berubah warna menjadi putih dan sekejap kemudian kembali berwarna hitam.”
Syekh Abdurrahman bin Zen berkisah :“Sekali waktu aku berziarah kepada Syekh Abu Bakar bin Salim Ra, lalu kami melihat warna beliau berubah-rubah; seketika itu juga terkadang-kadang berwarna putih lalu berubah menjadi kuning, kemudian berubah lagi menjadi hitam manis, dan rambut beliaupun terkadang berubah warna menjadi putih kemudian kembali berwarna hitam”.

20. Perempuan yang bertemu Syekh Abu Bakar bin Salim Ra.
Syarif Umar bin Muhammad bin Ali bercerita bahwa ada seorang perempuan dari salah satu qabilah arab yang telah mendengar tentang kekeramatan beliau, dan ia berkata bahwa ia ingin bertemu dan berziarah kepada Syekh Abu Bakar bin Salim Ra; sebelum kalimatnya selesai ia ucapkan, tiba-tiba pada saat itu juga hadir seseorang didepannya yang tak ia kenal dan berkata kepadanya :“Engkau ingin bertemu dengan Syekh Abu Bakar bin Salim ? Akulah Syekh Abu Bakar bin Salim ”Dan kemudian langsung hilang pada saat itu juga, tak lama berselang, iapun berziarah kepada Syekh Abu Bakar bin Salim di ‘Inat, dan tatkala ia melihat syekh Abu baker bin salim Ra, iapun terkejut karena ternyata wajah beliau sama dengan seseorang yang mendatanginya secara ghaib di kala lalu itu, lalu syekh Abu Bakar bin Salim Ra berkata kepadanya :“Yang mendatangimu tempo hari itu adalah aku “Padahal jarak tempuh antara daerah tempat tinggal perempuan itu dan kota ‘Inat adalah satu
bulan perjalanan.

21. Orang-orang yang bernazar bagi Syekh Abu Bakar bin Salim Ra.
Dikisahkan oleh Al-Imam Al-quthb Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-‘Athas, bahwa ada seorang perempuan yang bernazar ingin memberikan makanan kepada Syekh Abu Bakar bin Salim Ra, lalu ia pun membawa makanan ala kadar tersebut ke rumah Syekh Abu Bakar bin Salim Ra, ketika ia meminta kepada yang ada disana, pembantu tersebut merasa enggan untuk menyampaikan makanan yang ala kadarnya itu dan ia berkata kepada si perempuan tadi :“Syekh Abu Bakar bin Salim Ra tidak berhajat kepada makananmu”Sedihlah ia mendengar perkataan pembantu tadi, tapi tiba-tiba Syekh Abu Bakar bin Salim Ra keluar dari rumah beliau dan mendatangi si perempuan tadi dan menerima makanan tersebut, seraya mengucapkan terima kasih dan pembantu tadi ditegur beliau.Dikisahkan bahwa ada seorang yang mempunyai kebun yang luas dan ia bernazar; seandainya tanamannya tidak dirusak oleh binatang, maka sepersepuluh dari hasil panennya akan diberikan kepada Syekh Abu Bakar bin Salim ra, tak lama
kemudian ia melihat binatang yang biasanya merusak tanaman di kebunnya tidak bisa masuk kekebunnya tersebut dan hasil panennya sangat bagus semuanya dengan barokah dari Syekh Abu Bakar bin Salim Ra.

22. Orang-orang yang berziarah kepada Syekh Abu Bakar bin Salim Ra.
Diriwayatkan oleh Sayyid Ahmad bin Syekh Al-faqih Ali bin Sayyid Al-Faqih Syekh Al- Hasan Ra :“Ada serombongan jama’ah yang ingin berziarah kepada Syekh Abu Bakar bin Salim ra, tatkala mereka telah sampai di Sewun mampirlah mereka ke Sulthan Al-Katsiriy, sebagian dari rombongan ada yang tinggal dan sebagian yang lain meneruskan perjalanan mereka untuk berziarah kepada Syekh Abu Bakar bin Salim Ra; tak lama kemudian rombongan yang tinggal tadi merasa menyesal dan mereka berniat ingin melanjutkan perjalanan untuk berziarah kembali, lalu mereka berpikir untuk menemui pembantu Syekh Abu Bakar bin Salim Ra yaitu yang bernama Baraja untuk bertabarruk, lalu mereka menemui pembantu beliau tersebut yang sedang berada di rumah beliau yang berada di Sewun; tanpa diduga pembantu beliau tersebut berkata kepada mereka :“Kalian akan bertemu Syekh Abu Bakar bin Salim Ra di rumah ini, masuklah kalian, Bismillah”Lalu merekapun masuk dan mereka bertemu dengan Syekh
Abu Bakar bin Salim Ra di rumah tersebut ( yang berada di Seiwun ); kemudian mereka lama berbincang-bincang dengan beliau, dan beliau juga membaca fatehah untuk mereka, setelah itu mereka pulang, dan didalam perjalanan mereka bertemu dengan rombongan lainnya yang baru pulang dari ‘Inat dan berkata kepada mereka :“Syekh Abu Bakar bin Salim mengirimkan salam buat kalian “Mendengar hal ini merekapun merasa ta’jub karena merekapun baru saja berkumpul dengan Syekh Abu Bakar bin Salim Ra di waktu yang sama di Sewun.

23. Mendapatkan anak dengan barokah Syekh Abu Bakar bun Salim Ra.
Berkata Al-Mu’allim Ahmad bin Abdurrahman Bawazir :Ketika Syekh Abu Bakar bin Salim sedang duduk di majlis beliau dan sedang menemui orang-orang yang berziarah kepada beliau, tiba-tiba ada seseorang yang berpenampilan seperti seorang Darwisy menghampiri beliau dan beliaupun berdiri menyambut orang tersebut seraya berkata :
“Engkau adalah Syekh Al-Bakri? Yang mengajar di Makkah?”Orang tersebut menjawab :”benar”Kemudian syekh Abu Bakar bin Salim Ra bertanya :“Apakah engkau mempunyai anak?” Jawabnya : “tidak”Kemudian Syekh Abu Bakar bin Salim Ra mengeluarkan mangkuk beliau yang berwarna merah, kemudian dipenuhi oleh beliau dengan kopi, kemudian diberikan Kepada Syekh Al-Bakri, seraya berkata :“Wahai Syekh Al-Bakri berikanlah kopi ini kepada istrimu, Insya Allah ia akan segera mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki yang akan menjadi seorang Ulama Makkah “


Tak lama kemudian Syekh Bakri mendapatkan anak laki-laki dan anak tersebut menjadi seorang Ulama Makkah, persis seperti yang dikatakan oleh Syekh Abu Bakar bin Salim Ra”

Diriwayatkan bahwa Al-Fadhil Al-Wali Al-Imam Abdurrahman Al-Biyd Al- Ba’alawi, salah seorang murid Syekh Abu Bakar bin Salim Ra, suatu hari hendak menemui beliau bersama seseorang bernama Utsman Khatib sambil membawa kopi, ketika mereka telah berjumpa dengan Syekh Abu Bakar bin Salim Ra, beliau lebih dulu berkata kepada mereka berdua :“Wahai Sayyid Abdurrahman sesungguhnya engkau ingin mempunyai keinginan untuk mempunyai seorang anak laki-laki; karena engkau hanya mempunyai anak perempuan; sesungguhnya Allah swt berfirman : Yahabu liman yasinasan wa yahabu liman yasya az-zukur”
Sayyid Abdurrahman menjawab:”Benar ya Sayyidi, selain ingin berjumpa dengan anda, itulah juga keinginanku”Kemudian Syekh Abu Bakar bin Salim Ra berkata kepada Sayyid Abdurrahman :“Sesungguhnya anak perempuan akan mendapatkan kelapangan dunia dan akherat, dan engkau akan mendapatkan anak laki-laki yang mengkhatamkan Al-qur’an, minumlah kopimu, sedangkan engkau ya Utsman keinginanmu adalah agar engkau mendapatkan kemuliaan, engkau akan mendapatkan kemaslahatan dari anak cucumu dan mereka akan diberikan Allah swt kelapangan dalam urusan duniawi mereka”.
Kemudian sayyid Abdurrahman kembali meneruskan cerita beliau :Demi Allah sungguh yang terjadi pada kami berdua persis seperti yang dikatakan Syekh Abu bakar bin salem Rodhiallau wa ardho...........smg dg berkah syech abu bakar bin salem Allah bahagiakan hidupku dan kalian para pecintanya dunia akherat amin amin amin ya allah                       

MANAQIB Sayyidina al-Imam 'Abdul Malik Azmatkhan bin 'Alwi 'Ammul Faqih * NASAB : " Sayyid Abdul Malik bin Alawi (...