Khamis, 18 Mei 2017


KAROMAH AL-FAQIH AL-MUQODDAM



1. Pertolongan dengan al-madad & barokah beliau
Diceritakan oleh A-SyechMuhammad bin Ali bin Al-Faqih Ahmad bin Abu Alwi R.anhum daripaman beliau A-SyechbMuhammadbin Al-Faqih Ahmad Ra beliau bercerita;”Aku bermusafir dari Zhofar hendakmenuju Syihr dengan perbekalanyang kami angkut dengan onta, pada waktu kami telah sampai diGhizoh yang banyak rusak jalannya,jatuhlah perbekalan kamiberantakan diatas gunung,rombongan kamipun merasa cemas terhadap para penduduk Ghizoh,karena mereka seringkali bila adarombongan Khafilah yang perbekalannya berantakan
merekapun merampasnya sampai tidak ada lagi yang tersisa bagipemiliknya.Para penduduk Ghizohketika melihat keadaan rombongankami yang sedemikian rupa,merekapun berbondong-bondongmenaiki kuda mereka, hendakmenghampiri kami denganbertujuan merampas harta bendakami.Ketika itu juga, akuberistighatsah kepada kakekku;Sayyidina Al-Faqih Ra belumlahsempat kuselesaikan Tawasulku,tiba-tiba rombongan kami terangkatdiudara dan mendarat disatu
lapangan yang agak jauh dari parapenduduk seolah-olah ada yangmembawa kami dan melemparkankami, kamipun selamat dan merasalega, para penduduk Ghizoh punberlaku baik kepada kami, merekamalahan membanatu kamimengemasi barang-barang,mereka
kami beri upah, salah satu darimereka memberitahu kepada kami,tatkala rombongan kami terangkat diudara,ia berkata;”Ketika akumelihatmu sedang berdo’a danbertawassul tadi, aku melihatseseorang yang berjubah danbersorban putih yang terbang dan
mengangkat dan memindahkanrombongan kalian dari gunungkelapangan”, aku lalumemberitahukan kepadanya;”Sungguh aku bilamana sedangtertimpa kesusahan akuberistighatsah kepada kakekkuSayyidina Al-Faqih Ra dan denganseizin Allah kesusahanku akan hilang pada saat itu juga”.sekaliwaktu aku baru sampai dariHabasyah dan aku membawabarang bawaan yang banyak, ketikaaku sampai di kota Adn aku merasa bingung karena Amir Adn padawaktu itu suka merampasperbekalan orang asing yangmelintas di Adn, lalu akupunbertawassul dan beristighatsahkepada kakekku Sayyidina Al-FaqihRa, setelah itu akupunbaru turundari kapal tatkala aku telah turunkedarat,tiba-tiba ada seorang laki-laki yang berkta kepadaku;”Bawalah barang-barangmu dan berjalanlahdari arah sana”sambil menunjukkesatu arah, lalu akupun berjalandiarah yang ia tunjukkankepadaku,sampai akhirnyasampailah aku dijalan besar di Adndan selama itu akupun tidak
mendapati seseorangpun yangmenghentikan perjalananku danmengambil barang bawaanku
sampai akhirnya selamatlah akusampai ditujuan semuanya itudengan Rahmat Alllah SWT dan
barakah dari kakekku Sayyidina Al-Faqih Ra”Diriwayatkan dari As-Syech Al-ArifBillah Alwi bin Ahmad bin Al-Faqih
bin Abu Alwi R.anhum beliauberkata;”Aku bermusafir denganberombongan dari Hadhramautsalah seorang rombongan adalahAs-Sayyid Muhammad bin Ali Al-
Khatib R.a ke Yaman maka kamipunberlayar dengan kapal daripelabuhan di kota Syihr, lalukamipun berlayar, tapi ketika kamisampai ditengah laut, tiba-tiba adabadai yang menerpa kami yang membuat kapal kami hancur
berkeping-keping, akupunberpegangan dengan sekeping kayu,dalam keadaan sedemikian rupa,aku beritighatsah dengan dengankakekku, As-Syech Al-FaqihMuhammad bin Ali Ra,makabelumlah sempurna kalimatku tiba-
tiba ada tali yang ujungnya tidak adamenjulur dari udara kearahku,akupun lalu berpegangan pada taliitu dan tali itu membawaku kedaratdengan selamat, tatkala aku sampaididarat akupun bertemu dengan As-Sayyid Muhammad bin Ali Al-Khatibyang sudah duluan sampai danselamat kedarat, akupun berkata kepadanya;”Bagaimanakahkeadaanmu?”, Ia menjawab;”Segalapuji bagi Allah yang telah menggantikan segala musibah kitadengan keamanan”
Diriwayatkan dari As-Sayyid As-Sholeh Muhammad bin Ali bin Umarbin Abu Alwi Ra beliaubercerita;”Pada sekali waktu akusedang berada di Adn, dan akuingin melakukan perjalanan keHadhramaut dan tidak ada satukemudahan bagiku untukmelakukan perjalanan ke
hadhramaut dan tidak ada satukapalpun di pelabuhan Adn yangbertujuan ke Syihr, keadaan yangsedemikian tersebut membuatpikiranku menjadi kalut, dan aku
merasa takut akan membuat cemaskeluargaku diHadhramaut, padamalamnya aku beristighatsah dengan kakekku Sayyidina Al-FaqihRa sampai akhirnya akupun tertidurakupun bermimpi bertemu dengan
sepupuku seorang Wali yang besaryaitu As-Syech Muhammad bin Ali(namanya sama tapi bukanSayyidina Al-Faqih Ra), yang ingindatang menolongiku maka aku
berkata padanya, “Kenapa engkaudatang aku tidak meinta bantuanmuaku meminta tolong kepada kakekku
Sayyidina Al-Faqih Ra” didalammimpiku aku melihat serombonganBa’alawi yang sedang berkumpul,
lalu turunlah kepada kami SayyidinaAl-Faqih Ra, beliau berkata;”Akudatang untuk menolongi orang yang
meminta pertolonganku di Adnsiapa orangnya?” akupun lalumenjawab;”Akulah orangnya wahaikakekku” kemudian akupun laluterbangun, setelah aku Sholat
Shubuh aku lalu pergi menuju kePelabuhan, menunggu pertolonganyang dijanjikan oleh Sayyidina Al- Faqih Ra, tak lama aku menunggukudapati kapal yang baru datang,yang semuanya menuju ke Syihryang dengan Qudrah-Nyadirapatkan kepelabuhan Adn maka
akupun lalu bisa berlayar denganRahmat Allah SWT dan Barakah darikakekku Sayyidina Al-Faqih Ra.”
2. Hadirnya Sayyidina Al-Faqih dalam sholat Jenazah
Meriwayatkan As-Syech Sa’id bin Umar Lihaf dari anaknya, Muhammad bahwa beliau berkata;”Tidaklah kami sholat atas jenazah seorang Muslim kecuali beliau (As-syech Al-FaqihRa), hadir dan ikut Sholat bersama kami padahal beliau telah wafat”, dan telah berkata As- Syech Abdullah bin Muhammad Abu Ibad Ra; ”Tidaklah kami Sholat atas jenazah, kecuali As-Syech Al-Faqih Ra hadir dan ikut sholat bersama kami” ,berkomentar As-Syech Abdurrahman Al-Khatib Ra,”Sayyidina Al-Faqih Ra mendatangi jenazah mereka, karena Sayyidina Al-Faqih Ra menyayangi kaum Muslimin dan kedatangan beliau dikarenakan untuk memeberikan Syafa’ah Kewilayahan beliau kepada mereka, kalau mereka ditimpa oleh kesusahan, Sayyidina Al-Faqih Ra akan menolongi mereka karena Sayyidina Al-Faqih Ra berakhlak dengan Nama-nama Allah SWT dan dengan Akhlak Baginda rasul Allah SAW,dan telah berfirman Allah SWT kepada Nabi-Nya;”Tidaklah Aku utus engkau wahai Muhammad kecuali agar menjadi Rahmat bagi semesta alam”,seperti itulah keadaan para Nabi dan Awliya’ tidaklah Allah SWT mengutus para Nabi dan mengangkat para Wali, kecuali menjadikan mereka sebagai Rahmat bagi segenap Makhluk-Nya,diriwayatkan bahwa termaktub didalam beberapa Kitab Allah yang diturunkan kepada para Nabi yang terdahulu bahwa berfirman Allah SWT;”Aku adalah Tuhan yang penyayang dan aku tidak menyayangi orang yang yang tidak mempunyai sifat kasih sayang”
3. Keberkahan, Al-Madad, dan Al-Asrar yang diturunkan Allah SWT disisi makam Al-Faqih AlMuqaddam Ra
Banyak Qoul dari para Wali besar yang mengatakan bahwa pada makam Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam banyak diturunkan Rahmat Allah SWT dan disisi makam
beliau banyak terdapat kebaikan, berapa banyak orang yang susah yang dilepaskan dari kesusahannya dan berapa banyak orang yang sakit telah sembuh dari penyakitnya dikarenakan Keberkahan dari Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali Ra.Mengenai
keberkahan dan kemujaraban yang didapatkan dari ber-Istighatsah dan bertawassul disisi makam Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali Ra diceritakan ada seorang lelaki yang matanya bengkak sehingga membuatnya tidak bisa tidur dalam waktu yang lama, ia kemudian pergi kemakam Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra, selanjutnya ia berkisah:
”Ketika aku telah tiba disisi makam Sayyidina Al-Faqih kuletakkan kepalaku disisi makam beliau kemudian aku tertidur sebentar dan ketika aku bangun bengkak pada mataku telah hilang seketika itu juga”
Makam Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra Bercerita As-Syech Ahmad bin Muhammad Abu Harmiy : ”Suatu ketika aku ingin keluar untuk berziarah ke kubur para Awliya’ diZanbal, Tarim, yanng pertama kali kuziarahi adalah kubur para Khutaba’ , ketiaka aku akan
membaca Salam kepada para Ahli kubur , tiba-tiba ada dua orang laki-laki yang memegang kedua tanganku disebelah kanan dan sebelah kiriku kemudian mereka mengangkatku diudara dan memindahkan diriku kedepan makam Sayyidina Al-Faqih Ra,
kemudian mereka berkata kepadaku:”Kalau engkau hendak berziarah berilah salam terlebih dahulu kepada Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali Ra, kemudian setelah itu barulah engkau boleh berziarah kepada siapa yang engkau ingin ziarahi,hal ini mesti engkau dahulukan walupun kubur orang yang ingin engkau ziarahi jaraknya jauh dari makam Sayyidna Al-Faqih” kemudian aku bertanya kepada mereka :”Siapakah anda berdua ini?” Kami adalah Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar” kemudian merekapun menghilang.
Menurut para Ahli Arifin, menerangkan bahwa barang siapa yang ingin berziarah kepekuburan “Zanbal” sebelum berziarah kepada Sayyidina Al-Faqih maka batallah ziarahnya. Seorang Sholihin bercerita; ”Pada satu waktu aku sedang berada disatu tempat yang sangat menakutkan, akupun lalu bertawassul dan beristighatsah dengan beberapa orang Sholih yang
kukenal, kemudian akupun tertidur, dan akupun bermimpi ada yang berkata;”Engkau tidur ataupun bangun tidak akan menyelamatkanmu dari kami kecuali
Allah SWT, dan As-Syech Muhammad bin Ali Ra “akupun lalu mengadu kepada beliau, dan bertanya siapakah beliau ini? Lalu ada yang berkata;”Beliau adalah dimakamkan di makam ini” akupun lalu melihat dalam mimpiku makam Sayyidina Al-Faqih Ra”. As-Syech Muhammad bin Abu Bakar Ba’ibad Ra sering berziarah
kemakam Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra bilamana beliau lewat makam Sayyidina Al-Faqih Ra beliau langsung berziarah walaupun awalnya tidak bertujuan untuk berziarah misalnya hanya kebetulan lewat, keseringan berziarahnya As-syech Muhammad Ba’ibad Ra ke makam Sayyidina Al-Faqih menimbulkan kebingungan dikalangan pengikut beliau,karena
beliau sendiri melarang orang untuk berziarah kubur, sehingga ada yang bertanya kepada beliau;
”Kenapa anda selalu berziarah ke makam Sayyidina Al-Faqih? Padahal anda sendiri melarang orang untuk
berziarah kekuburan?” beliau menjawab;
”Bilamana aku melihat makam Sayyidina Al-Faqih, aku tidak kuasa untuk tidak menziarahinya” Didalam Kitab “Al-Anmuzaj Al-Latif” disebutkan bahwa telah berkata As- Syech Fadl bin Abdullah: ”Sayyidina As-Syech Al-Faqih
Muhammad bin Alwi bin As-Syech Ahmad bin Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali Ra beliau berkata:”Tempat duduk yang paling aku cintai didunia ini adalah duduk disisi makam kakekku Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam” Dan telah bercerita As-Syech Abdullah bin Alwi Ra:”Pada satu ketika aku berada disatu padang
rumput dan aku ditimpa demam yang sangat tingi sehingga hampir-hampir membuatku hilang kesadaran dan menimbulkan rasa sakit yang luar biasa akupun terpikirbahwa hal ini tidak bisa dibiarkan lebih lama lagiakupun lalu mendatangi makam Sayyidina Al-Faqih Ra,kemudian kututup mataku dan kupanjangkan tanganku keatas makam Sayyidina Al-Faqih Ra
kemudian aku bertawasshul”Aku meminta kepada Allah SWT dengan keberkahanmu agar dihilangkan-Nya
demam panas yang menimpaku” kemudian aku mendengar suara yang berkata kepadaku;”Kucukupi/
kupenuhi” lalu kutarik tanganku dan kubuka mataku,kemudian hilanglah demam dari diriku dan tidak pernah menimpaku lagi”.
4. Marahnya Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra
Telah diriwayatkan bahwa As-Syech Muhammad bin Ustman As-Syamhuniy Az-Zhofary mendatangi anak-anak Sayyidina Al-Faqih Ra setelah Sayyidina Al-Faqih Ra wafat, maka beliau disambut oleh Al-Habib Alwi Al-Ghuyur dan Al-Habib Abdurrahman menjemput As-Syech Muhammad dari luar kota, tatakala mereka telah bertemu berziarahlah mereka bersama-sama ke makam
para Wali dan beberapa orang Sholihin, kemudian Al-habib Abdurrahman berpesan kepada saudaranya yaitu;As-Syech Alwi Al-Ghuyur;”Wahai Alwi aku hendak pulang terlebih dahulu kerumah mempersiapkan jamuan untuk As-Syech Muhammad, sedangkan engkau tunggulah disini temani As-Syech Muhammad”
Kemudian Al-Habib Abdurrahman pulang kerumahnya, dan Al-Habib Alwi menemani As-Syech Muhammad ,setelah Al-Habib Abdurrahman pulang datanglah As-Syech Ibrahim bin Yahya Abu Fadhal Ra, dia berkata kepada Al-Habib Alwi Al-Ghuyur Ra;”Wahai Alwi aku ingin agar engkaubersedia untuk menyerahkan
kepadaku untuk menjamu As-Syech Muhammad”
Al-Habib Alwi Al-Ghuyur mengizinkan As-Syech Ibrahim
untuk membawa As-Syech Muhammad, kemudian pulanglah Al-Habib Alwi Al-Ghuyur, ketika Al-Habib Abdurrahman bertemu dengan Al-Habib Alwi sendirian tidak bersama As-Syech Muhmmad bertanyalah Al-Habib Abdurrahman kepada Al-Habib Alwi perihal As-Syech Muhammad, Al-Habib Alwi lalu memberitahukan bahwa As-Syech Muhammad dibawa oleh As-Syech Ibrahim, murkalah Al-Habib Abdurrahman, beliaupun langsung
menemui As-Syech Muhammad setelah beliau bertemu dengan As-Syech Muhammad beliaupun menumpahkan segala kekesalannya kepada As-Syech Muhammad
karena memenuhi undangan As-Syech Ibrahim dahulu, padahal beliau sudah mempersiapkan jamuan untuk As-Syech Muhammad dirumah beliau, As-Syech Muhammad mengahadapi kekesalan Al-Habib Abdurrahman
dengan senyuman dan penuh ketawadhu’an, maka setelah Al-Habib Abdurrahman melihat keluhuran Akhlak As-Syech Muhammad beliaupun menyesali diri beliau yang terlalu mengikuti hawa nafsu, beliaupun pergi ke
Masjid dan ber-I’tikaf dan beliau berniat tidak akan keluar dari Masjid sebelum As-Syech Muhammad memaafkan perlakuan beliau terhadap As-Syech Muhammad, tak
lama kemudian As-Syech Muhammad mendatangi Al-Habib Abdurrahman dengan muka ketakutan, dan berkata kepada beliau;”Wahai Abdurrahman urungkanlah
niatmu untuk meminta maaf kepadaku, karena aku takut
terhadap ayahmu (Sayyidina Al-Faqih) karena beliau tadi telah mendatangiku dalam keadaan marah kepadaku seperti singa dan ia berkata kepadaku;”Wahai Muhammad apakah engkau ingin menghinakan anakku dengan akhlakmu?” Diriwayatkan bahwa As-Syech Barakwah pergi keTarim bermaksud mengajak penduduk Tarim kepada Mazhab Thariqah yang dianutnya,
sesampainya di Tarim ia bermimpi didatangi oleh Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra, karena Imam Thariqah penduduk Tarim, adalah Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra.
5. Do’a Al-Faqih Al-Muqaddam Ra untuk keturunan beliau
Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra berdo’a untuk anak keturunan beliau dengan tiga permintaan beliau yang telah di Ijabah oleh Allah Jalla Wa’Ala, do’a Sayyidina Al-Faqih Ra untuk anak keturunannya tersebut adalah sebagai berikut : Imam Muhammad Bin Ali Al Faqihi Muqadam berdoa untuk para keturunannya agar selalu menempuh perjalanan yang baik, jiwanya tidak di kuasai oleh kedzaliman yang akan menghinakannya, serta tidak ada satupun dari anak cucunya yang meninggal kecuali dalam keadaan mastur ( Kewalian yang tersembunyi ).
* Tidak dikenal oleh masyarakat
umum (Mastur) dan tidaklah mereka
terjun dalam kemasyarkatan kecuali
dalam keadaan Faqir dan mencintai
kaum fakir miskin.
* Jangan sampai mereka dikuasai
oleh penguasa yang menzhalimi
mereka
* Tidak ada yang mati dalam
keadaan masih berhajat kepada
urusan Duniawinya, yaitu tidak
mempunyai hajat Duniawi yang bisa
memberikan Mudharat kepada
urusan agamanya.
3. Keadaan keluarga Sayyidina Al- Faqih Al-Muqaddam Ra sepeninggal beliau
Diriwayatkan bahwa As-Syech Al-Kabir Al-Arif billah Ta’ala Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Abu Ibad Ra datang ke Tarim sesudah wafatnya Sayyidina Al-Faqih Ra untuk menengok anak-anak
Sayyidina Al-Faqih Ra beserta isteri beliau “Ummul Fuqara’ ” Al-Hababah Zainab R.anha, tatkala As-Syech
Abdullah telah bertemu dengan Al-Hababah Zainab beliau berkata;”Bagaimana keadaan kalian sepeningal Sayyidina Al-Faqih Ra?” Al-Hababah Zainab R.anha
menjawab:”Keadaan kami sepeningal Sayyidina Al-Faqih tidak ada bedanya dengan sebelum beliau (Sayyidina Al-Faqih Ra) wafat, sedangkan keadaan Alwi bersama ayahnya sama sebagaimana pada waktu masa
hidupnya, Ilmu dan Rahasia langit bagi kami seperti kami melihat Bumi mendatangi kami pada waktu siang
dan malam, sedangkan Alwi datang kepadanya berselang sehari atau dua hari”

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

MANAQIB Sayyidina al-Imam 'Abdul Malik Azmatkhan bin 'Alwi 'Ammul Faqih * NASAB : " Sayyid Abdul Malik bin Alawi (...